Poin Penting
- Bank Panin mencatat laba sebelum pencadangan dan pajak Rp1,29 triliun di kuartal I 2026 (naik 5,40 persen yoy), namun laba bersih turun tipis 0,82 persen menjadi Rp743,3 miliar
- Penyaluran kredit tumbuh negatif 3,27 persen menjadi Rp140,34 triliun karena strategi selektif, tetapi kualitas kredit membaik dengan rasio NPL gross turun dari 3,33 persen menjadi 3,00 persen
- DPK mencapai Rp147,43 triliun dengan giro naik 14,7 persen, CAR kuat di 37,07 persen, dan LDR 89,05 persen; Bank Panin juga memperkuat digitalisasi lewat peluncuran aplikasi MyPanin.
Jakarta – PT Bank Panin Tbk melaporkan perolehan laba sebelum pencadangan dan pajak konsolidasian (unaudited) Rp1,29 triliun di kuartal I 2026, atau tumbuh 5,40 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan laba bersih tercatat Rp743,3 miliar, terkoreksi 0,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Presiden Direktur PaninBank, Herwidayatmo menjelaskan, penurunan laba tersebut tak lepas dari upaya perseroan meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas portofolio kredit pada tahun ini.
“Biaya cadangan sebesar Rp350,7 miliar (kuartal I 2026), naik 33,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025,” jelas Herwidayatmo dikutip 1 Mei 2026.
Baca juga: Bank Panin Dubai Syariah Dorong Gaya Hidup Sehat dan Finansial Perempuan
Untuk kinerja intermediasi, kata Herwidayatmo, penyaluran kredit dilakukan secara lebih selektif dengan mengedepankan kualitas portofolio dan profil risiko debitur.
“Oleh karena itu, pertumbuhan kredit dikendalikan secara prudent sesuai dengan kondisi permintaan yang masih terbatas, dengan mencatat pertumbuhan negatif 3,27 persen menjadi Rp140,34 triliun,” jelasnya.
Meski demikian, Bank Panin mampu menjaga kualitas kredit. Ini tercemin dari rasio non performing loan (NPL) gross berhasil ditekan dari level 3,33 persen di Maret 2025 menjadi 3,00 persen pada Maret 2026.
Dari sisi pendanaan, lanjut Herwidayatmo, Bank Panin mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) Rp147,43 triliun di Maret 2026. Giro tercatat mengalami pertumbuhan hingga 14,7 persen menjadi Rp13,52 triliun.
“Kami menempatkan pertumbuhan dana murah sebagai prioritas utama dalam pengelolaan likuiditas guna menjaga struktur biaya dana tetap kompetitif di tengah tekanan suku bunga,” jelasnya.
Permodalan Bank Panin terus ditingkatkan dan kini telah mencapai Rp54,29 triliun dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 37,07 persen per 31 Maret 2026.
Adapun loan to deposit ratio (LDR) dipertahankan moderat sebesar 89,05 persen untuk mengantisipasi pertumbuhan kredit pada kuartal II 2026.
Sedangkan total aset konsolidasi mencapai Rp225,36 triliun, sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp228,88 triliun.
Baca juga: Bank Panin Bukukan Laba Bersih Rp2,87 Triliun Sepanjang 2025
Bank Panin terus menyempurnakan layanan digital yang lebih lengkap guna meningkatkan customer experience, disamping layanan yang diberikan melalui kantor cabang yang kini mencapai 514 Kantor di seluruh Indonesia.
“Pada awal Februari 2026, kami telah meluncurkan MyPanin, aplikasi mobile banking terbaru yang menjadi bagian dari strategi transformasi digital perusahaan tahun ini,” tutup Herwidayatmo. (*)




