PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) terus perkuat pelayanan perbankan/Istimewa.
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang solid. Laba bersih BNC melonjak 2.745 persen dari 19,88 miliar di 2024, menjadi Rp565,69 miliar pada 2025.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono, menyampaikan bahwa capaian sepanjang 2025 merupakan hasil dari strategi transformasi bisnis yang dijalankan secara konsisten dengan menitikberatkan pada pertumbuhan yang berkualitas serta pengelolaan risiko yang disiplin.
“Tahun 2025, kami berhasil mencatatkan peningkatan kinerja yang baik dengan tetap menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan model bisnis digital yang kami miliki,” jelas Eri dikutip 31 Maret 2026.
Capaian laba bersih tersebut tak lepas strategi BNC dalam menekan rasio BOPO dari 99,34 persen di 2024, menjadi 84,18 persen pada 2025.
Tak hanya menekan efisiensi, BNC juga mampu menjaga rasio cost to income ratio (CIR) yang tercatat stabil di 31,33 persen, sementara Net Interest Margin (NIM) berada pada 14,39 persen.
Baca juga: Kena Sanksi Administratif dari OJK, Begini Respons BNC
Kinerja profitabilitas lainnya juga positif. Ini tercermin pada return on assets (ROA) yang meningkat menjadi 3,11 persen dari 0,10 persen, serta return on equity (ROE) yang meningkat menjadi 15,13 persen dari 0,59 persen pada tahun sebelumnya.
Dari sisi permodalan, BNC mempertahankan posisi permodalan dengan modal inti sebesar Rp4,03 triliun, meningkat dari Rp3,32 triliun pada tahun sebelumnya.
Adapu rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat 49,07 persen, meningkat signifikan dibandingkan 35,30 persen pada tahun sebelumnya yang disebabkan oleh peningkatan laba bersih.
“Struktur permodalan yang solid ini memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara sehat dan berkelanjutan,” kata Eri.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BNC tercatat sebesar Rp14,03 triliun, meningkat 7,37 persen year on year (yoy) dari Rp13,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan dana tabungan yang mencapai Rp3,50 triliun, naik dari Rp3,09 triliun pada Desember 2024, serta deposito yang tetap terjaga di level Rp9,86 triliun. Ini mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah terhadap layanan digital BNC.
Selain itu, BNC terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. Hingga akhir 2025, tercermin dari non performin loan (NPL) net yang tetap terkendali pada level 0,89 persen.
Sementara kondisi likuiditas yang kuat tercermin pada loan to deposit ratio (LDR) pada level 51,21 persen dan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 614,93 persen menjadi basis untuk untuk ekspansi pertumbuhan kredit ke depannya.
Hingga Desember 2025, BNC membukukan total aset sebesar Rp18,97 triliun, tumbuh 8,99 persen yoy dibandingkan Rp17,41 triliun pada Desember 2024.
Baca juga: BNC Bakal Rilis Layanan Paylater di 2026, Bidik Pembiayaan Rp200 Miliar
Memasuki 2026, BNC akan menitikberatkan strategi pada penyaluran kredit yang berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Dalam hal ini, BNC akan terus meningkatkan kapabilitas produk dan menambah mitra guna memperluas potensi bisnis serta memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif.
Eri menyampaikan optimisme terhadap prospek perseroan ke depan seiring dengan penguatan fundamental bisnis yang telah dibangun sepanjang 2025.
“Memasuki tahun 2026, kami akan terus fokus pada pertumbuhan kredit yang berkualitas serta mengoptimalkan potensi bisnis melalui penguatan produk dan layanan perbankan digital untuk meningkatkan potensi fee based income,” ujarnya.
Kata Eri, salah satu inisiatif strategis yang tengah disiapkan adalah peluncuran layanan Buy Now Pay Later (BNPL) dengan mitra yang direncanakan hadir pada pertengahan tahun 2026.
“Ini sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” tutup Eri. (*)
Poin Penting Sebanyak 93 persen anggaran BGN Rp268 triliun dialokasikan langsung untuk Program MBG. Porsi… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia memilih bersikap realistis di tengah sinyal OJK terkait peluang kenaikan bank… Read More
Poin Penting Maybank Indonesia menerapkan strategi “dua kaki” dengan membagi pembiayaan otomotif ke dua entitas,… Read More
Poin Penting DPR mendorong mitigasi berlapis untuk menghadapi risiko krisis energi akibat konflik Timur Tengah.… Read More
Poin Penting Inflasi Maret 2026 diperkirakan melandai ke 0,62 persen (mom), turun dari 0,68 persen… Read More
Poin Penting KPPU menggelar sidang perdana dugaan keterlambatan notifikasi akuisisi oleh PT Evans Indonesia dalam… Read More