Poin Penting
- Bank Neo Commerce mencatat laba Rp136,98 miliar pada kuartal I 2026, dengan total aset naik tipis menjadi Rp18,34 triliun dan permodalan sangat kuat (CAR 50,60 persen)
- Realisasi kredit turun 17,24 persen menjadi Rp7,03 triliun di tengah ketidakpastian ekonomi, namun kualitas tetap sehat dengan NPL neto rendah di 0,42 persen.
- BNC memperkuat dana murah (CASA 30,34 persen), menjaga efisiensi, serta menyiapkan layanan BNPL dan mendapat sentimen positif lewat masuknya saham BBYB ke indeks Economic 30.
Jakarta – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mengawali 2026 dengan kinerja konsisten dengan membukukan laba Rp136,98 miliar di kuartal I 2026.
Dari sisi intermediasi, bank digital dengan kode saham BBYB terlihat mengalami tekanan di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik. Realisasi kredit terkontraksi 17,24 persen dari Rp8,49 triliun di Maret 2025 menjadi Rp7,03 triliun pada Maret 2026.
Meski demikian, BNC mampu menjaga kualitas kredit. Ini tercemin dari rasio non performing loan (NPL) neto sebesar 0,42 persen per 31 Maret. Jauh di bawah ambang batas yang ditentukan regulator, yakni 5 persen.
Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono mengatakan, di tengah banyaknya ketidakpastian yang sedang terjadi dan keadaan geopolitik yang tengah bergejolak di beberapa belahan dunia, BNC terus berupaya menjalankan bisnis dengan baik dan tetap memperhatikan tata kelola.
Baca juga: BNC Bakal Rilis Layanan Paylater di 2026, Bidik Pembiayaan Rp200 Miliar
“Kami fokus untuk mendorong pertumbuhan kredit di segmen digital retail secara hati-hati dan memperkuat ekosistem digital kami,” jelasnya dikutip 29 April 2026.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BNC per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp13,42 triliun, terkontraksi 1,97 persen dari Rp13,69 triliun pada kuartal I 2025. Terkait komposisi DPK, terjadi peningkatan 8,62 persen pada tabungan dari Rp3,22 triliun di Maret 2025 menjadi Rp3,50 triliun pada Maret 2026.
Adapun deposito mengalami kontraksi 2,18 persen menjadi Rp9,35 triliun di kuartal I 2026. Hal ini selaras dengan strategi bank untuk terus meningkatkan komposisi dana murah dengan meningkatkan kapabilitas transaksi, yang menghasilkan CASA rasio di 30,34 persen di akhir Maret 2026.
Sedangkan dari sisi efisiensi, rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) per 31 Maret 2026 berada di posisi 83,68 persen. Sedangkan cost to income ratio (CIR) tercatat 32,93 persen, dan net interest margin (NIM) berada di posisi 13,50 persen.
Selanjutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat 50,60 persen, naik signifikan dibandingkan 35,81 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya yang disebabkan oleh peningkatan laba bersih.
Rasio CAR yang cukup tinggi ini menandakan perseroan memiliki permodalan yang kuat, sehingga memungkinkan untuk melakukan ekspansi bisnis di tengah gejolak ekonomi yang dinamis.
Sementara dari sisi aset, pada posisi 31 Maret 2026, total aset mengalami peningkatan 0,94 persen, dari Rp18,17 triliun di akhir Maret 2025, menjadi Rp18,34 triliun pada Maret 2026.
Baca juga: Respons Bank Neo Commerce soal Dorongan OJK Merger dan Naik KBMI 2
Optimistis Lanjutkan Tren Kinerja Positif
Memasuki 2026, Eri optimistis BNC mampu melanjutkan trek kinerja positif. Sejumlah inovasi layanan telah disiapkan, salah satunya adalah dengan menghadirkan layanan buy now pay later (BNPL) yang akan diluncurkan pada tahun ini.
“Layanan ini diluncurkan sebagai bagian dari upaya kami dalam memperluas akses pembiayaan yang aman, terukur, dan relevan dengan kebutuhan nasabah,” jelasnya.
Sementara pada awal 2026, BNC juga menerima kabar baik terkait performa saham BBYB. Saham BBYB resmi menjadi salah satu anggota baru Indeks Economic 30, yang mulai berlaku pada 2 Maret 2026 lalu.
“Masuknya BBYB dalam indeks tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap kinerja dan prospek perseroan yang secara konsisten mencatatkan kinerja keuangan dan bisnis yang meyakinkan,” tutup Eri. (*)








