Ilustrasi: Gedung Bank Maspion/istimewa
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Maspion Indonesia Tbk mengumumkan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa, 9 Desember 2025.
Mengutip laman keterbukaan informasi, 17 November 2025, manajemen Bank Maspion menjelaskan bahwa RUPSLB yang rencananya digelar Kantor Pusat Perseroan, Pakuwon Tower, Tunjungan Plaza, Surabaya pada pukul 10.00 WIB ini akan membahas perubahan susunan pengurus.
“Mata acara rapat merupakan Perubahan susunan Pengurus Perseroan, sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” tulis manajemen Bank Maspion.
Pemanggilan RUPSLB ini sekaligus menjadi undangan resmi bagi seluruh pemegang saham, mengingat Bank Maspion tidak mengirim undangan tersendiri.
Adapun pemegang saham yang berhak hadir maupun memberikan kuasa adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 14 November 2025 hingga pukul 16.00 WIB, termasuk pemegang saham dalam penitipan kolektif KSEI.
Baca juga: BRI, Bank Mandiri, dan BNI Kompak Mau Gelar RUPSLB pada Desember 2025, Bahas Apa?
Hingga semester I 2025, kinerja keuangan Bank Maspion menunjukkan pelemahan signifikan, terutama dari sisi laba bersih.
Hingga akhir Juni 2025, bank yang dipimpin oleh Kasemsri Charoensiddhi sebagai direktur utama ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp25,03 miliar, turun tajam 50,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (yoy) sebesar Rp50,37 miliar.
Meskipun demikian, kinerja fungsi intermediasi masih menunjukkan perkembangan yang menarik. Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh tinggi sebesar 21,86 persen yoy, menjadi Rp14,69 triliun, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri yang sebesar 6,96 persen.
Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kenaikan dana murah atau current account saving account (CASA) yang meningkat 37,38 persen menjadi Rp3,39 triliun. Rasio dana murah terhadap DPK juga membaik dari 20,46 persen menjadi 23,07 persen, menandakan peningkatan efisiensi biaya dana (cost of fund).
Pun begitu, penyaluran kredit justru mengalami kontraksi sebesar 4,49 persen yoy, turun dari Rp15,17 triliun menjadi Rp14,49 triliun. Hal ini berbanding terbalik dengan tren industri yang mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 7,77 persen menurut data OJK.
Baca juga: RUPSLB Bank NTT Rombak Pengurus, Ini Sususan Terbarunya
Meskipun demikian, Bank Maspion patut diapresiasi karena berhasil memperbaiki kualitas kreditnya. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross turun dari 3,40 persen menjadi 2,73 persen, dan NPL net menurun signifikan dari 2,82 persen menjadi 1,42 persen. Angka ini masih jauh di bawah batas aman 5 persen yang ditetapkan regulator.
Aset Bank Maspion per Juni 2025 tercatat Rp23,24 triliun, meningkat 8,77 persen yoy. Meski aset tumbuh, modal inti mengalami penurunan sebesar 5,74 persen menjadi Rp6,21 triliun.
Namun, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tetap sangat kuat, naik dari 42,91 persen menjadi 45,93 persen, menandakan bank masih memiliki kapasitas yang baik dalam menanggung berbagai risiko yang mungkin akan terjadi. (*)
Poin Penting Volume trading tokenisasi aset di platform PINTU meningkat 45% secara bulanan pada Februari… Read More
Poin Penting Pemerintah akan melakukan efisiensi anggaran Kementerian/Lembaga untuk mencegah defisit APBN melampaui batas 3… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyindir kritik yang menyebut ekonomi Indonesia hancur dan… Read More
Poin Penting Askrindo berpartisipasi dalam Program Mudik Gratis BUMN 2026 untuk membantu masyarakat melakukan perjalanan… Read More
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kinerja 57 perusahaan asuransi jiwa pada periode Januari–Desember 2025.… Read More
Poin Penting Mastercard dan CLIK Credit Bureau Indonesia menjalin kerja sama untuk memperkuat ekspansi kredit… Read More