Poin Penting
- Bank Mandiri dan MTI (PT Mitra Transaksi Indonesia) memperkuat ekosistem kepemimpinan perempuan melalui peluncuran Komunitas Srikandi YOKKE.
- Komunitas ini menopang kapabilitas talenta perempuan di industri teknologi pembayaran lewat pilar Wellness, Leadership, Digital Literacy, dan Upskilling Skills.
- Kepemimpinan perempuan membutuhkan sinergi kompetensi individu, adaptabilitas teknologi, support system keluarga, serta budaya kerja korporasi yang inklusif.
Jakarta – Di tengah dinamika dunia kerja dan akselerasi transformasi bisnis yang kian berbasis kompetensi, peluang perempuan untuk menduduki posisi kepemimpinan strategis kian terbuka lebar.
Kendati demikian, hadirnya pemimpin perempuan yang tangguh tidak tumbuh secara instan sekadar dari kompetensi teknis semata, melainkan membutuhkan dukungan ekosistem yang solid dan berkelanjutan.
Ekosistem pendukung tersebut mencakup support system keluarga yang kuat, budaya kerja inklusif di korporasi, hingga keberanian talenta perempuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengambil peluang strategis.
Semangat inklusivitas dan penguatan kepemimpinan tersebut menjadi benang merah dalam diskusi publik bertajuk “Empowering Women to Grow, Lead, and Thrive”, yang digelar bertepatan dengan peluncuran Komunitas Srikandi YOKKE (PT Mitra Transaksi Indonesia/MTI) di Jakarta, belum lama ini.
Diskusi panel ini menghadirkan jajaran pembicara kunci, antara lain Senior Vice President Human Capital Reward & Remuneration Bank Mandiri Votivia Mardinna, CEO MTI Sylvia Novieta, Chief Human Capital Officer AXA Mandiri Financial Services Elisabeth Evaty Dewi, Staf Ahli Menteri Bidang Sistem Pemasaran dan Infrastruktur Kementerian Ekonomi Kreatif Septriana Tangkary, serta Psikolog Sandra Handayani.
Baca juga: Kredit UMKM Bank Mandiri Tumbuh 5,48 Persen, Ini Wilayah dengan Pertumbuhan Tertinggi
Adaptabilitas dan Strategi 4 Pilar Srikandi YOKKE
Dalam kesempatannya, Sylvia Novieta menegaskan bahwa kepemimpinan di era perubahan yang dinamis menuntut kelincahan (agility), ketajaman melihat peluang, serta kecermatan dalam menetapkan prioritas.
“Pemimpin bukan hanya dituntut menyelesaikan masalah, tetapi juga harus mampu melihat peluang di balik setiap perubahan. Kuncinya adalah berani mengambil kesempatan, beradaptasi, dan menetapkan prioritas agar dapat memberikan dampak terbaik bagi organisasi tanpa kehilangan makna peran di keluarga,” ujar Sylvia, Sabtu (25/7/2026).
Sylvia turut mendorong para talenta perempuan agar tidak ragu memegang kendali kepemimpinan. Pasalnya, lanskap korporasi modern saat ini makin menitikberatkan pada kompetensi dan kualifikasi diri ketimbang pertimbangan gender.
“Ketika kita percaya pada kemampuan diri sendiri dan berani mengambil peluang, ruang untuk berkembang akan terbuka semakin lebar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sylvia menjelaskan bahwa Komunitas Srikandi YOKKE ditopang oleh empat pilar utama, yakni Wellness, Leadership, Digital Literacy, dan Upskilling Skills. Keempat pilar ini dirancang khusus untuk memperkuat kapabilitas serta daya saing kepemimpinan perempuan di industri teknologi pembayaran (payment technology).
Mengusung semangat Srikandi Mandiri di dalam ekosistem Mandiri Group, inisiatif ini hadir untuk memfasilitasi kemandirian, mendorong pertumbuhan karier yang berkelanjutan, sekaligus mengakselerasi transformasi digital nasional melalui lingkungan kerja yang inklusif.
Budaya Kerja Inklusif dan Support System Keluarga
Pandangan tersebut sejalan dengan penegasan Votivia Mardinna. Ia menekankan bahwa keberhasilan perempuan menembus jajaran kepemimpinan puncak sangat bergantung pada hadirnya support system yang kokoh di rumah serta budaya kerja yang inklusif di lingkungan perusahaan.
Berdasarkan pengalaman di Bank Mandiri, kata Votivia, para eksekutif perempuan yang sukses mencapai posisi kepemimpinan umumnya memiliki fondasi dukungan keluarga yang kuat—khususnya dari pasangan—sehingga mampu mengeksplorasi potensi karier secara maksimal.
“Organisasi memegang peran kunci melalui penyediaan budaya kerja yang inklusif, kesempatan yang setara, serta lingkungan yang mendorong perempuan untuk bertumbuh dan berani mengambil peran kepemimpinan,” tutur Votivia.
Bentuk nyata dukungan korporasi tersebut diwujudkan melalui kebijakan pelindung keseimbangan kerja dan kehidupan (work-life balance), seperti fasilitas daycare, fleksibilitas kerja, hingga program akselerasi dan pengembangan talenta perempuan (women talent development).
Kehadiran Komunitas Srikandi YOKKE pun menjadi katalis penting dalam memperluas ruang berbagi pengalaman, peningkatan kapasitas, dan pemetaan jejaring kepemimpinan.
Baca juga: Laba Bank Mandiri Melonjak, Kredit Tumbuh 19,9 Persen Lampaui Industri
Akselerasi Digital Buka Peluang Bisnis Luas
Dari sudut pandang regulasi dan ekonomi kreatif, Septriana Tangkary, menilai pesatnya gelombang transformasi digital menjadi karpet merah bagi perempuan untuk berkarya dan membangun skala usaha.
Pemanfaatan teknologi terkini—seperti e-commerce, kecerdasan buatan (artificial intelligence), blockchain, hingga Internet of Things (IoT)—memungkinkan perempuan meretas efisiensi dalam membangun bisnis maupun meniti karier profesional.
“Teknologi menghadirkan kesempatan yang semakin luas. Oleh karena itu, perempuan perlu terus belajar, adaptif terhadap perubahan, dan tidak takut memulai dari langkah-langkah kecil,” jelas Septriana.
Melalui peluncuran Komunitas Srikandi YOKKE, MTI menunjukkan langkah konkret dalam membangun wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan (cross-stakeholder) yang inklusif untuk membina, menumbuhkan, dan melahirkan para pemimpin perempuan masa depan. (*)


