Perbankan

Bank Mandiri Beberkan Strategi Capai Pertumbuhan Kredit di Atas Industri

Poin Penting

  • Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 8–10% pada 2025, di atas rata-rata industri.
  • Strategi difokuskan pada ekspansi berbasis ekosistem dan penguatan layanan digital seperti Livin’ dan Kopra.
  • Penyaluran kredit diarahkan ke sektor prospektif dan resilien, termasuk infrastruktur, energi, dan UMKM.

Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membeberkan strategi dalam mencapai target pertumbuhan kredit yang telah ditentukan pada 2025. Bank berlogo pita emas ini menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 8–10 persen hingga akhir tahun.

Seperti diketahui, hingga September 2025, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.384 triliun atau tumbuh baik sebesar dua digit, 11,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja ini memang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang sebesar 7,70 persen yoy.

“Ke depan, kami terus menjaga momentum pertumbuhan kredit agar tetap berada di atas rata-rata industri dengan mengedepankan prinsip kehatian dan pengelolaan risiko yang terukur,” kata Direktur Commercial Banking Bank Mandiri, Toto Priyambodo dalam Paparan Kinerja Bank Mandiri Kuartal III 2025, Senin, 27 Oktober 2025.

Baca juga: Kinerja Solid Kuartal III 2025, Bank Mandiri Perkokoh Peran sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Toto menyatakan, strategi ekspansi kredit Bank Mandiri akan terus difokuskan pada pertumbuhan berbasis ekosistem dan penguatan pembiayaan ke berbagai segmen ekonomi di seluruh wilayah.

“Kami juga terus memperluas jangkauan layanan melalui optimalisasi channel digital seperti Livin’ by Bank Mandiri dan Kopra untuk mendorong efisiensi dan inklusi pembiayaan,” imbuhnya.

Baca juga: Rencana Buyback Rp1,17 Triliun, Bank Mandiri Ungkap Jadwal dan Tujuannya

Lebih lanjut, Toto menambahkan bahwa Bank Mandiri akan menyalurkan kredit secara selektif sesuai Loan Portfolio Guidelines (LPG) atau kriteria portofolio pinjaman.

Fokus pembiayaan diarahkan pada sektor-sektor prospektif dan resilien, seperti pemerintahan, perkebunan, infrastruktur, energi dan sektor-sektor yang berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional, termasuk UMKM. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

9 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

9 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

10 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

10 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

11 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

12 hours ago