Poin Penting
Jakart – Lebih dari separuh aset perbankan nasional masih dikuasai empat bank raksasa di kelompok KBMI 4. Mereka adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Negara Indonesia (BNI). Dominasi ini menegaskan peran mereka sebagai tulang punggung industri, sekaligus penggerak utama pembiayaan ekonomi nasional. Secara ukuran dan pengaruh, bank KBMI 4 tetap jauh di depan.
Data Biro Riset Infobank per Oktober 2025 menunjukkan, empat bank ini menggenggam pangsa di atas 50 persen hampir di semua indikator utama, aset, kredit, DPK, hingga laba. Total aset mereka mencapai Rp6.696,52 triliun, tumbuh 10,52 persen secara tahunan dan setara 50,66 persen dari total aset perbankan nasional. Angka ini naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan dominasi yang bukan cuma bertahan, tapi juga menguat.
Secara individual, per September 2025, Bank Mandiri masih memimpin dengan aset Rp2.563,36 triliun. Di belakangnya ada BRI Rp2.123,45 triliun, BCA Rp1.538,50 triliun, dan BNI Rp1.269,49 triliun. Menariknya, BNI justru mencatat pertumbuhan aset paling agresif, yakni 18,86 persen. Ini menunjukkan bahwa meski ukurannya paling kecil di antara the big four, laju ekspansinya tak bisa dianggap remeh.
Jika ditarik ke belakang, dominasi bank-bank besar ini sebenarnya pernah lebih tinggi. Pada 2020, porsi aset bank-bank besar sempat mencapai 56,44 persen. Bedanya, saat itu masih menggunakan klasifikasi BUKU dan dihuni tujuh bank. Setelah transisi ke KBMI, jumlah pemain menyusut, tapi kekuatan tetap terkonsentrasi pada empat bank utama ini.
Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), ceritanya kurang lebih sama. Pangsa DPK KBMI 4 mencapai 52,22 persen atau sekitar Rp5.093,17 triliun dari total DPK nasional. Dalam lima tahun terakhir, pangsa ini konsisten di atas 50 persen. Lagi-lagi, di posisi September 2025, BNI mencatat pertumbuhan tercepat dengan lonjakan DPK 21,38 persen menjadi Rp934,33 triliun, sementara Bank Mandiri tetap menjadi penghimpun dana terbesar dengan Rp1.884,19 triliun.
Di sektor pembiayaan, bank KBMI 4 juga menjadi mesin utama penggerak ekonomi. Mereka mendominasi kredit UMKM, korporasi, infrastruktur, hingga proyek strategis nasional, termasuk pembiayaan hijau. Dengan modal jumbo dan jaringan yang luas, bahkan sampai ke luar negeri empat bank ini menguasai 53,03 persen pangsa kredit perbankan nasional, dengan total penyaluran mencapai Rp4.411,62 triliun per Oktober 2025.
Dari sisi laba, dominasi mereka bahkan lebih tebal. Total laba KBMI 4 mencapai Rp145,14 triliun atau setara 67,14 persen laba perbankan nasional. Meski secara agregat terkoreksi 5,19 persen yoy, kemampuan menghasilkan laba tetap solid. Memang, tiga bank, Bank Mandiri, BRI, dan BNI, mengalami penurunan laba di September 2025, sementara BCA justru masih melaju dengan pertumbuhan 5,66 persen menjadi Rp43,41 triliun dan kembali menjadi bank paling cuan.
Efisiensi dan kekuatan digital menjadi salah satu kunci. Rasio BO/PO bank-bank besar ini berada di bawah rata-rata industri, membuat NIM tetap terjaga di tengah tekanan biaya dan tantangan ekonomi. Inilah alasan mengapa, meski pertumbuhan melambat, bank KBMI 4 tetap nyaman di puncak dan sulit digeser pemain lain.
Baca juga: Bank KBMI 2 di Jalan Terjal, tapi Masih Bertahan
Secara teori, masing-masing bank punya spesialisasi. Bank Mandiri dikenal kuat di wholesale dan korporasi, BRI identik dengan UMKM dan mikro, BCA unggul di transactional banking dan ritel, sementara BNI punya kekuatan di consumer, korporasi, dan international banking. Tapi, dalam praktik masa kini, sepertinya garis pembeda itu makin kabur. Semua bank masuk ke segmen yang sama, mengejar konsep universal banking.
Khusus bank-bank pelat merah, dulu sudah ditegaskan agar punya fokus masing-masing supaya tidak saling tabrakan. Tapi belakangan, bisnis mereka terlihat makin homogen. BRI, misalnya, melakukan rebranding besar pada akhir 2025 untuk membidik segmen yang lebih luas.
“Untuk menjadi bank yang universal, BRI harus membangun brand yang relevan, terdiferensiasi, dan konsisten di seluruh platform. Jadi, kami ingin relevan, ingin distinctive, dan juga konsisten,” ujar Hery Gunardi, Direktur Utama BRI, Desember 2025 lalu. Sekitar 80 persen portofolio BRI memang masih di UMKM dan mikro, tapi tekanan di segmen ini memaksa bank ini mencari mesin pertumbuhan baru.
Di sisi lain, BCA tetap kukuh dengan posisinya. Kredit BCA tumbuh 7,7 persen menjadi Rp993 triliun. “Penyaluran ini sejalan dengan komitmen BCA dalam mendukung perkembangan dunia usaha nasional,” tutur Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
Pada akhirnya, bank KBMI 4 memang tetap dominan, tapi dengan bisnis yang makin seragam. Tantangannya kini bukan soal besar-kecilan, melainkan soal siapa yang benar-benar berbeda. (*) Ari Astriawan
Poin Penting BEI bersama SRO dan OJK akan kembali bertemu MSCI pada 11 Februari 2026… Read More
Poin Penting IKK Januari 2026 naik ke 127,0 (dari 123,5), mencerminkan keyakinan konsumen yang tetap… Read More
Poin Penting Sepanjang 2025, BRImo melayani 5,60 miliar transaksi dengan nilai mencapai Rp7.057 triliun, tumbuh… Read More
Poin Penting OJK menjatuhkan sanksi administratif kepada PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL), PT Multi… Read More
Oleh Rahma Gafmi, Guru Besar Universitas Airlangga PELEMAHAN nilai tukar rupiah terjadi secara berkelanjutan sejak… Read More
Poin Penting Rupiah menguat tipis 0,02% ke level Rp16.872 per dolar AS pada awal perdagangan,… Read More