Poin Penting
Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) menyambut positif langkah pemerintah melalui Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang berencana menempatkan dana pemerintah di sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD), seperti Bank Jakarta dan Bank Jatim.
Direktur Utama Bank Kalbar, Rokidi, mengatakan kebijakan ini menjadi angin segar bagi industri BPD. Pasalnya, penempatan dana pemerintah mencerminkan asas keadilan antara bank milik pemerintah pusat dan daerah.
“Kami sebagai insan bank daerah menyambut baik ide atau kebijakan tersebut. Ini mencerminkan asas keadilan bagi seluruh perbankan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” ujar Rokidi saat dihubungi Infobanknews, baru-baru ini.
Baca juga: Bank Kalbar Pertahankan Kinerja Gemilang 25 Tahun Berturut-turut
Menurut Rokidi, salah satu manfaat nyata dari kebijakan tersebut adalah meredakan persaingan ketat dalam penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Selama ini, kompetisi antarbank—khususnya dalam membidik dana korporasi besar—mendorong suku bunga dana naik ke level tinggi. Kondisi ini berdampak langsung terhadap penurunan margin dan laba BPD.
“Situasi ini cukup dilematis bagi kami. Berapa pun harga dana yang ditawarkan (korporasi), terpaksa kami ambil. Akibatnya pendapatan dan laba kami tergerus,” ungkapnya.
Dengan adanya dukungan dana pemerintah, lanjut Rokidi, Bank Kalbar optimistis cost of fund akan turun secara bertahap. Penurunan tersebut diyakini akan menular ke sisi kredit, sehingga bunga pinjaman menjadi lebih kompetitif.
“Seiring rate DPK turun, maka rate kredit juga akan ikut turun. Ini bisa menjadi pemicu pertumbuhan UMKM,” jelasnya.
Meski demikian, Rokidi berharap penempatan dana pemerintah tidak hanya terfokus pada dua BPD besar. Ia mendorong agar seluruh BPD dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) tinggi juga mendapat porsi dukungan, termasuk Bank Kalbar yang tengah agresif menyalurkan kredit ke sektor UMKM.
“Kami juga berharap bukan cuma Bank DKI dan Bank Jatim yang mendapatkan penempatan dana. Karena rata-rata LDR kami (BPD) cukup tinggi, sehingga kami pun membutuhkan dukungan dana untuk ekspansi kredit, terutama ke sektor UMKM yang menjadi konsen kami,” tegasnya.
Ia menilai, jika dukungan dana pemerintah diperluas, maka efek pengganda terhadap perekonomian daerah akan semakin besar.
“Ini sejalan dengan mandat pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional,” pungkasnya.
Sebelumnya, Purbaya berencana akan menyuntik dana Rp10 triliun-Rp20 triliun ke Bank Jakarta. Hal tersebut diungkapkan Purbaya setelah melakukan pertemuan dengan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Jakarta, Pramono Anung di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2025).
“Saya taruh di Himbara, yang 200 triliun, gimana kalau saya tambah beberapa puluh triliun ke Bank Jakarta? Saya tanya tadi ke Pak Gubernur, apakah Bank Jakarta bisa nyerap? Jangan sampai saya kasih duit panik terusnya. Waduh nggak bisa nyalurkan. Kata Pak Gubernur bisa,” kata Purbaya.
Baca juga: Purbaya Tak Paksa Bank Jakarta dan Bank Jatim Terima Dana Pemerintah
Nantinya, lanjut Purbaya, rencana tersebut akan diimplementasian dengan strategi yang sama seperti penempatan dana Rp200 triliun ke himpunan bank milik negara (Himbara). Selain itu, dia juga berniat untuk menyuntikkan dana kepada satu lagi bank pembangunan daerah (BPD) di kawasan Jawa Timur atau Bank Jatim.
“Jadi nanti kita akan implementasikan strategi yang sama untuk Bank Jakarta, dan mungkin satu bank lagi di kawasan Jawa Timur sana. Dalam waktu dekat nanti jumlahnya akan saya hitung. Tapi kalau Rp10 triliun Rp20 triliun aja bisa kali ya untuk nyerap ya,” ungkapnya. (*)
Poin Penting Indonesia jadi negara dengan pekerja paling bahagia di Asia Pasifik, dengan 82 persen… Read More
Poin Penting PT Gozco Capital membeli 164 juta saham Bank Neo Commerce senilai Rp59,7 miliar,… Read More
Poin Penting BSDE membukukan prapenjualan Rp10,04 triliun pada 2025, tumbuh 3 persen yoy dan melampaui… Read More
Oleh Ignasius Jonan, Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019 TAHUN 2026 diawali… Read More
Poin Penting IHSG dibuka flat melemah di level 8.122,01 pada perdagangan Selasa (4/2), dengan nilai… Read More
Poin Penting Rupiah melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (4/2/2026), dibuka di level Rp16.762 per… Read More