PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) /Infobanknews.
Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) membukukan laba bersih sebesar Rp620,86 miliar pada semester I 2024. Angka ini turun 13,79 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar Rp720,14 miliar.
Penurunan laba bersih tersebut terjadi di tengah tren kenaikan suku bunga dan peningkatan biaya dana (cost of fund) yang memengaruhi kinerja perbankan secara keseluruhan.
Meskipun laba bersih turun, menurut data Biro Riset Infobank, Bank Jatim berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 6,33 persen dari Rp2,41 triliun menjadi Rp2,56 triliun pada paruh pertama tahun ini.
Baca juga: Digerus Beban Bunga, Laba Bersih Bank Sumut Susut 6,60 Persen jadi Rp351,62 Miliar di Semester I 2024
Hal tersebut ditopang dari kenaikan pendapatan bunga yang tumbuh 7,56 persen, menjadi Rp3,78 triliun, meskipun beban bunga juga mengalami kenaikan sebesar 10,27 persen, dari Rp1,10 triliun menjadi Rp1,21 triliun.
Selama enam bulan pertama 2024, Bank Jatim menyalurkan kredit sebesar Rp55,69 triliun, tumbuh signifikan sebesar 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan perseroan untuk tetap ekspansif dalam penyaluran kredit, meski berada dalam tekanan peningkatan suku bunga dan tantangan likuiditas.
Sementara total aset Bank Jatim tembus Rp101,24 triliun per Juni 2024, atau terkontraksi 1,67 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp103 triliun.
Hal tersebut seiring dengan menyusutnya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 1,94 persen, menjadi Rp81,03 triliun dari Rp82,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Rasio likuiditas Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Jatim tercatat sebesar 71,39 persen, yang menunjukkan posisi likuiditas yang cukup baik.
Baca juga: Kinerja Terjaga, Bank BJB Raup Laba Rp931 Miliar di Juni 2024
Dari sisi profitabilitas, Return on Asset (ROA) tercatat sebesar 1,63 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) berada di level 11,60 persen.
Sementara itu, rasio efisiensi bank yang diukur dari Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) mencapai 80,59 persen, menunjukkan adanya ruang perbaikan dalam efisiensi operasional. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More
Poin Penting Fitur leverage memungkinkan transaksi lebih besar dari modal, tetapi juga memperbesar potensi kerugian… Read More