Ilustrasi: Gedung Bank Jateng. (Foto; istimewa)
Poin Penting
Jakarta– Kontribusi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah atau Bank Jateng terhadap pertumbuhan ekonomi daerah kembali terlihat nyata. Pada 2025, bank milik pemerintah daerah tersebut menggelontorkan dividen sebesar Rp1,12 triliun kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) serta 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Alokasi dividen Bank Jateng tersebut akan langsung mengisi pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menjadi amunisi pembangunan di tiap wilayah.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa Bank Jateng punya peran strategis dalam menguatkan kemandirian fiskal daerah. Pasalnya, PAD kian menjadi tumpuan ketika dana transfer pusat mengalami penurunan.
“PAD ini dipergunakan sesuai konsep prioritas pembangunan di Jawa Tengah. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan Bank Jateng agar semakin besar ke depan,” ujar Sumarno dikutip dari laman Pemprov Jateng, 25 Desember 2025.
Baca juga: Bank Jateng Siap Jadi Tuan Rumah Undian Tabungan Simpeda 2026
Lebih jauh, ia menekankan bahwa perputaran dana Bank Jateng sepenuhnya kembali ke masyarakat di wilayah ini.
“Uang itu kembali membangun provinsi ini,” tegasnya.
Menariknya, kinerja Bank Jateng juga kian mencolok di kancah perbankan daerah. Laba Bank Jateng 2025 tercatat sebagai yang tertinggi di antara seluruh BPD di Pulau Jawa, sementara asetnya berada di posisi ketiga terbesar.
“Kalau aset memang nomor tiga. Tapi total laba Bank Jateng tahun ini masih yang tertinggi,” ungkap Sumarno.
Hingga kuartal III 2025, Bank Jateng menorehkan laba bersih sebesar Rp1,06 triliun. Capaian tersebut meningkat tipis 2,91 persen year-on-year (yoy) ketimbang Rp1,03 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, Bank Jateng tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp59,45 triliun, naik tipis 1,35 persen dari Rp58,66 triliun pada September 2024.
Sementara itu, pembiayaan syariah tercatat sebesar Rp4,25 triliun atau tumbuh 11,84 persen secara tahunan.
Namun, kualitas aset nampaknya harus menjadi perhatian Bank Jateng dalam ekspansi kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat mengalami kenaikan dari 3,92 persen pada September 2024 menjadi 4,06 persen pada September 2025.
Baca juga: Bank Mandiri Bagikan Dividen Interim Rp9,3 Triliun, Ini Jadwalnya
Di periode sama, dana pihak ketiga (DPK) mengalami kenaikan dari Rp74,17 triliun menjadi Rp80,27 triliun, atau tumbuh 8,22 persen. Struktur DPK tetap didominasi dana murah (CASA) dengan porsi 51,30 persen.
Dari realisasi kredit dan pembiayaan, per September 2025, Bank Jateng mengantongi pendapatan bunga sebesar Rp5,72 triliun, meningkat 7,12 persen secara tahunan. Pada periode sama, beban bunga tercatat sebesar Rp2,13 triliun, atau naik 16,39 persen.
Dengan demikian, pendapatan bunga bersih yang dibukukan menjadi Rp3,59 triliun, naik tipis 2,28 persen dari Rp3,51 triliun pada periode sama tahun lalu.
Bank Jateng menutup kuartal III 2025 dengan total aset sebesar Rp97,89 triliun, atau tumbuh 8,64 persen ketimbang Rp90,10 triliun di kuartal III 2024. (*)
Poin Penting BSDE membukukan prapenjualan Rp10,04 triliun pada 2025, tumbuh 3 persen yoy dan melampaui… Read More
Oleh Ignasius Jonan, Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019 TAHUN 2026 diawali… Read More
Poin Penting IHSG dibuka flat melemah di level 8.122,01 pada perdagangan Selasa (4/2), dengan nilai… Read More
Poin Penting Rupiah melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (4/2/2026), dibuka di level Rp16.762 per… Read More
Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian melanjutkan tren penurunan pada Rabu (4/2/2026),… Read More
Poin Penting IHSG diprediksi bergerak variatif cenderung menguat dengan area support 7.715–7.920 dan resistance 8.325–8.530,… Read More