Poin Penting
- Bank Jateng mempercepat digitalisasi transaksi pemda melalui ETPD yang telah menjangkau 35 kabupaten/kota dan provinsi, dengan tingkat elektronifikasi mencapai 97,5 persen
- Pengembangan layanan digital (pajak, retribusi, belanja daerah) serta kanal seperti QRIS, m-banking, dan tapping box mendorong kenaikan transaksi di berbagai sektor
- Digitalisasi meningkatkan transparansi dan pencatatan real-time, menekan kebocoran serta mengoptimalkan PAD, dengan fokus lanjutan pada penguatan literasi digital SDM.
Jakarta – Bank Jateng terus mempercepat digitalisasi transaksi keuangan pemerintah daerah guna mendorong peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menekan potensi kebocoran.
Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widiyatmoko mengatakan, implementasi elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD) di Jawa Tengah kini telah menjangkau seluruh wilayah, mencakup 35 kabupaten/kota serta pemerintah provinsi.
“Sudah menjadikan keniscayaan terhadap disrupsi teknologi jadi kita harus adopsi digitalisasi yaitu mengimplementasikan secara maksimal dan merata ke seluruh daerah sebagai bank yang memberikan solusi digital dalam transaksi keuangan pemda atau ETPD yang ujung-ujungnya adalah cashless untuk mengedepankan akutabilitas dan transparansi,” ujar Bambang dalam acara The Regional Championship 2026 yang digelar The Asian Post, yang merupakan bagian dari Infobank Media Group di Solo, Kamis (16/4).
Menurut Bambang, indeks elektronifikasi transaksi pemerintah daerah di Jawa Tengah saat ini telah mencapai 97,5 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa mayoritas daerah telah mengadopsi sistem transaksi digital dalam pengelolaan keuangan.
Baca juga: Bank Jateng Gandeng 40 Pengembang Dukung Program 3 Juta Rumah Prabowo
Adapun layanan digital yang dikembangkan Bank Jateng meliputi berbagai sektor, mulai dari pajak, retribusi, hingga belanja daerah. Perseroan juga menghadirkan sejumlah platform, seperti SIPDRI, SP2D online, Siskeudes berbasis CMS, serta kanal pembayaran e-tax, e-PBB, e-retribusi, dan e-samsat.
Di sisi lain, Bank Jateng memperluas kanal pembayaran dengan menggandeng mitra ritel modern serta mengoptimalkan layanan digital seperti Bima M-Banking, QRIS, dan perangkat tapping box di sektor usaha.
Ekspansi tersebut turut mendorong pertumbuhan transaksi di sejumlah sektor. Tercatat, transaksi kartu kredit tumbuh 42 persen, pembayaran PDAM meningkat 32 persen, serta retribusi rumah sakit dan pasar masing-masing naik 25 persen dan 23 persen.
Bambang menilai, peningkatan transaksi ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang mulai beralih ke sistem pembayaran non-tunai.
Baca juga: Bank Jateng Setor Dividen Rp1,12 Triliun ke Pemprov dan 35 Kabupaten/Kota
Lebih lanjut, digitalisasi dinilai memberikan dampak positif terhadap pengelolaan fiskal daerah. Dengan sistem yang terintegrasi, setiap transaksi dapat tercatat secara real time, sehingga potensi kebocoran dapat ditekan dan penerimaan daerah menjadi lebih optimal.
“Elektronifikasi membantu memastikan seluruh penerimaan tercatat dengan baik, sehingga mendukung peningkatan PAD,” jelasnya.
Ke depan, lanjutnyua, penguatan literasi digital menjadi fokus berikutnya. Tidak hanya sistem yang dibangun, tetapi juga kesiapan SDM agar mampu memanfaatkan teknologi secara optimal dalam pengelolaan keuangan.
“Bank Jateng akan terus meningkatkan literasi digital serta memperluas penggunaan transaksi non-tunai untuk mendukung tata kelola keuangan daerah yang lebih baik,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama







