Jakarta – Peredaran uang palsu menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri terus meningkat. Bank Indonesia (BI) sudah melakukan antisipasi terhadap maraknya peredaran uang ini.
Kerja sama yang dilakukan BI adalah dengan menggandeng pihak kepolisian untuk memberikan efek jera kepada para pelaku. Kerja sama lainnya adalah dengan pihak pengadilan untuk bisa meningkatkan hukuman untuk para pelaku.
Ronald Waas, Dewan Gubernur Bank Indonesia, mengatakan, jumlah uang palsu sudah semakin banyak saat ini. Hal ini diketahui karena BI bersama polisi langsung menemukan ke percetakannya. “Terakhir, sudah ditemukan 18 ribu lembar lebih,” tambahnya ketika ditemui di sela-sela Festival Smart Money Smart City yang diselenggarakan BI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dia melanjutkan, sampai saat ini, uang palsu paling banyak ditemukan di daerah Jawa, sehingga masyarakat diminta untuk lebih waspada lagi. Untuk memastikan uang palsu atau bukan, Ronald meminta masyarakat memahami cipur (ciri-ciri keaslian uang rupiah) dengan melaksanakan 3D (dilihat, diraba, dan diterawang).
“Dilihat bagian sudut kanan, di etak dengan tinta khusus dan warnanya bisa berubah. Diraba, uang asli bahannya lebih kasar kalau uang palsu, bukan dibuat dari bahan dasar kapas,” tutupnya.(*) Indra Haryono
Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More
Poin Penting IHSG ditutup anjlok 1,37 persen ke 8.280,83 pada 24 Februari 2026, didorong koreksi… Read More