Ilustrasi: Kantor Bank INA. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mematok pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8-12 persen. Menanggapi hal tersebut, PT Bank INA Perdana Tbk justru lebih optimistis penyaluran kredit mampu tumbuh 15-20 persen, melampaui target dari regulator.
Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi, menegaskan pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mendongkrak ekspansi pembiayaan, terutama dengan mengoptimalkan ekosistem keuangan grup induk.
“Isu saat ini adalah kita harus mengembangkan penyaluran kredit. Saat ini, kami sedang memanfaatkan ekosistem dari Salim Group dulu,” kata Yulius dalam media gathering, Senin, 23 Februari 2026.
Baca juga: Realisasi Kredit Bank Mandiri Januari 2026 “Ngegas”, Tumbuh 15,62 Persen
Optimalisasi ekosistem tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan sejumlah entitas di bawah Salim Group, seperti Indogrosir, Indomobil, hingga Indomaret. Dari sinilah Bank INA masuk ke pembiayaan supply chain dan kebutuhan kredit lainnya.
Di saat bersamaan, transformasi digital juga dipacu untuk memperkuat integrasi pembiayaan dalam ekosistem tersebut, salah satunya lewat platform Binadigital. Hingga kini, Binadigital telah mengantongi lebih dari 500 ribu nasabah, mayoritas berasal dari ekosistem Salim Group.
“Kami tidak grasah-grusuh cari nasabah baru. Kami nggak pengen punya nasabah jutaan tapi nggak ada isinya. Kami mengejar pelan-pelan, dan mengutamakan kontinuitas,” tambah Yulius.
Sementara Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bank INA, Adhiputra Tanoyo, memastikan risiko kredit tetap terjaga lantaran perseroan memahami karakter dan profil bisnis dalam ekosistem yang digarap.
Adhiputra menambahkan, untuk mengantisipasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL), perseroan akan fokus masuk ke pasar-pasar utama terlebih dahulu. Ia menilai ruang pertumbuhan di segmen tersebut masih terbuka lebar.
Di sisi lain, Bank INA mulai serius menggarap pasar Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Segmen ini mulai dikembangkan sejak 2025 dan akan dipacu lebih agresif pada 2026.
“KPR itu baru kami mulai kembangkan di 2025. Mesinnya baru nyala lah tahun 2025, karena kan perlu orang, salesnya, bikin produk yang menarik, gimmick,dan harganya. Sekarang kami ada (bunga) yang fix 1 tahun (sebesar) 2,18 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank INA, Kiung Hui Ngo, mengakui bahwa penurunan suku bunga acuan berpotensi menekan net interest margin (NIM). Namun, dengan likuiditas yang terjaga, ekspansi kredit diyakini tetap berjalan optimal.
Dengan strategi tersebut, Bank INA memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 bisa mencapai 15–20 persen, melampaui target OJK.
“Berdasarkan target RBB, kredit bisa tumbuh di kisaran 15-20 persen,” tegasnya.
Baca juga: Aplikasi Binadigital Milik Bank INA Kini Bisa Berinvestasi Emas
Secara kinerja, hingga September 2025 Bank INA mencatat pertumbuhan yang cukup impresif. Aset melonjak 34,74 persen secara tahunan (yoy) dari Rp22,44 triliun menjadi Rp30,24 triliun.
Penyaluran kredit tumbuh 13,37 persen (yoy) menjadi Rp15,02 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) bahkan melesat 49,39 persen (yoy) ke level Rp25,54 triliun.
Namun, di tengah solidnya fungsi intermediasi, laba bersih justru terkontraksi 64,26 persen, dari Rp150,83 miliar di September 2024 menjadi Rp53,89 miliar pada September 2025. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kinerja 57 perusahaan asuransi jiwa pada periode Januari–Desember 2025.… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah belum berencana menerbitkan Perppu untuk menaikkan… Read More
Poin Penting BGN menghentikan sementara 9 dapur Program Makan Bergizi Gratis di Gresik karena polemik… Read More
Poin Penting IHSG ditutup melemah 1,61 persen ke level 7.022,28 pada perdagangan Senin (16/3/2026). Sebanyak… Read More
Poin Penting Konflik Iran–AS–Israel memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas USD100 per barel.… Read More
Oleh Paul Sutaryono KINI pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang demutualisasi bursa efek.… Read More