Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi. (Foto: M. Adrianto Sukarso)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank INA Perdana Tbk (Bank INA) menatap positif kinerja perusahaan hingga akhir 2025. Optimisme ini disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Bank INA, Yulius Purnama Junaedi, di sela-sela peluncuran produk Honest Savings dengan Binadigital by Bank INA, Kamis, 16 Oktober 2025.
“Untuk DPK kita masih positif. Kredit juga positif. Saya rasa, secara keuangan, kami juga bisa lebih baik dari bisnis-bisnis memang yang kita sehari-hari kita lakukan,” ujarnya.
Yulius mengungkapkan, dana pihak ketiga (DPK) Bank INA mencatatkan pertumbuhan signifikan, lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Setelah sempat menghadapi tekanan pada paruh prtama 2025, kini pertumbuhan DPK mencapai dua digit.
“Jujur untuk tahun ini DPK kami sudah jauh tumbuh lebih besar daripada tahun lalu. Jadi, minimal tahun ini (DPK) kami at least kita sudah tumbuh 20 persen,” jelasnya.
Baca juga: Tren Kucuran Dana Pemerintah, Bank INA Sebut Bisa Turunkan Suku Bunga Kredit
Menurut Yulius, ada dua faktor yang mendorong peningkatan DPK. Pertama, adanya dukungan likuiditas melalui dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang memperkuat kemampuan bank dalam menghimpun dana segar.
Selain itu, Bank INA juga terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak luar untuk menarik simpanan masyarakat.
Meski pertumbuhan DPK kuat, Bank INA tetap berhati-hati dalam penyaluran kredit. Yulius menyebut, kebijakan ekonomi di bawah Menkeu Purbaya baru akan terlihat hasilnya dalam beberapa bulan mendatang.
Baca juga: Bank INA Kerja Sama dengan Kliring Berjangka Indonesia jadi Bank Penyimpan Dana Margin
Berdasarkan laporan keuangan kuartal-II 2025, kinerja Bank INA mencatat hasil positif. Aset bank tumbuh 11,26 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp25,98 triliun.
Kinerja intermediasi juga tumbuh positif. DPK bank melonjak 16,94 persen (yoy) menjadi Rp21,57 triliun. Sementara, kredit tumbuh 4,74 persen dari Rp12,94 triliun menjadi Rp13,55 triliun.
Akan tetapi, laba bersih mengalami kontraksi cukup dalam, sebesar 64,15 persen (yoy), berada di angka Rp24,69 triliun. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting 15,2 juta NIB diterbitkan, 14,9 juta untuk usaha mikro; masih ada 40 juta… Read More
Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More