Perbankan

Bank CTBC Indonesia Tumbuh di Atas Industri, Raup Laba Rp189,63 Miliar di 2024

Jakarta – Bank CTBC Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 12,04 persen secara tahunan (yoy) pada 2024, melampaui pertumbuhan laba industri perbankan yang sebesar 4,88 persen. Pencapaian ini didukung oleh peningkatan pendapatan bunga dan pengelolaan beban bunga yang tetap terkendali.

Mengutip laporan publikasi bank ini pada Selasa, 25 Maret 2025, pendapatan bunga Bank CTBC Indonesia yang dipimpin Iwan Satawidinata sebagai presiden direktur, tumbuh 20,34 persen menjadi Rp1,69 triliun dibandingkan Rp1,40 triliun pada 2023.

Namun, beban bunga juga meningkat signifikan sebesar 45,57 persen menjadi Rp785,77 miliar. Hal ini menyebabkan pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 4,57 persen menjadi Rp903,548 miliar. Meskipun demikian, bank ini tetap mampu menjaga profitabilitas dengan strategi efisiensi dan optimalisasi portofolio kredit.

Baca juga: Laba Seabank Tumbuh 57 Persen Jadi Rp378 Miliar di 2024

Di sisi efisiensi operasional, beban operasional lainnya tercatat sebesar Rp659,31 miliar, naik 2,45 persen dari tahun sebelumnya. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sedikit meningkat dari 85,82 persen menjadi 86,39 persen. Meski rasio ini lebih tinggi dari angka ideal 85 persen, Infobank Institute memandang kinerja Bank CTBC Indonesia tetap kompetitif di tengah tantangan industri yang mencatatkan BOPO rata-rata sebesar 81,30 persen.

Bank CTBC Indonesia mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 10,76 persen menjadi Rp17,29 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri yang berada di angka 10,52 persen. Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap bank ini tetap tinggi.

Selain itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga di bawah batas aman yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen, dengan NPL gross turun dari 2,14 persen menjadi 2,04 persen, meskipun NPL net sedikit meningkat dari 0,10 persen menjadi 0,16 persen. Pencapaian ini mencerminkan pengelolaan risiko kredit yang tetap hati-hati.

Dalam hal penghimpunan dana, DPK Bank CTBC Indonesia tumbuh sebesar 18,96 persen menjadi Rp19,86 triliun, jauh di atas pertumbuhan industri yang sebesar 4,48 persen. Peningkatan terbesar berasal dari giro yang naik 29,70 persen menjadi Rp8,19 triliun serta tabungan yang tumbuh 20,63% menjadi Rp618,42 miliar.

Dengan demikian, dana murah (CASA) naik 29,02 persen menjadi Rp8,81 triliun, sehingga rasio dana murah terhadap DPK bank ini meningkat dari 40,89 persen menjadi 44,36 persen. Hal ini menunjukkan keberhasilan bank dalam mengelola pendanaan dengan struktur biaya yang lebih efisien.

Total aset Bank CTBC Indonesia di 2024 meningkat 13,64 persen menjadi Rp25,99 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan aset industri perbankan yang hanya mencapai 5,91 persen. Hal ini menunjukkan ekspansi bisnis yang sehat dan strategi yang tepat dalam mengelola portofolio aset.

Baca juga: Bank BJB Syariah Kantongi Laba Rp60,27 Miliar di 2024, Pembiayaan Tumbuh di Atas Industri

Lebih jauh, rasio keuangan Bank CTBC Indonesia juga terlihat tetap stabil dan berkualitas. Return on assets (ROA) tercatat di 0,99 persen, sementara return on equity (ROE) naik dari 5,04 persen menjadi 5,36 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) juga tetap kuat di angka 27,04 persen, jauh di atas batas minimal yang ditetapkan regulator.

Sementara itu, rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di angka 87,04 persen, masih dalam kisaran ideal 78 persen – 92 persen dan lebih likuid dibandingkan rata-rata industri yang mencapai 88,57 persen. Hal ini menandakan bank memiliki likuiditas yang lebih baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

8 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

9 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

9 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

10 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

11 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

12 hours ago