Perbankan

Bank BPD Bali Sabet Penghargaan di Ajang Top 20 Financial Institutions Awards 2024

Jakarta – PT Bank Pembangunan Daerah Bali atau Bank BPD Bali berhasil meraih penghargaan di ajang “Top 20 Financial Institutions Awards 2024” yang diadakan The Finance, bagian dari Infobank Media Group, di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2024.

Bank yang dipimpin oleh I Nyoman Sudharma sebagai direktur utama ini masuk dalam jajaran Top Bank 2024 untuk kategori bank dengan aset Rp25 triliun hingga di bawah Rp50 triliun.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan penilaian kinerja bank selama tiga tahun terakhir (2021, 2022, dan 2023). Selama periode tersebut, Bank BPD Bali mampu menorehkan kinerja moncer, dengan skor 90,54 dan predikat “Sangat Bagus” dari The Finance.

Baca juga: HUT ke-62 Bank BPD Bali, Bangga Berkarya untuk Bali dan Indonesia

Pada kuartal III 2024, Bank BPD Bali kembali melanjutkan kinerjanya yang apik. Selama 9 bulan pertama tahun 2024, perseroan mampu mencatatkan laba Rp774 miliar, meningkat 20,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari posisi September 2023 yang sebesar Rp644 miliar.

Pertumbuhan laba double digit ini jadi prestasi tersendiri bagi Bank BPD Bali, mengingat sejumlah BPD di Tanah Air mengalami tekanan dalam mencetak laba di kuartal III 2024.

I Nyoman Sudharma mengatakan, raihan laba tersebut ditopang oleh kinerja intermediasi. Per September 2024, Bank BPD Bali mampu menyalurkan kredit Rp22,50 miliar atau naik 8,13 persen dari tahun lalu yang sebesar (yoy) Rp20,811 miliar.

“Kredit investasi penyumbang terbesar dari realisasi kredit tersebut, yakni Rp10,22 miliar, sedangkan kredit konsumtif Rp9,87 miliar tumbuh 3,40 persen yoy dan kredit modal kerja terealisasi Rp2,40 miliar,” jelas I Nyoman Sudharma kepada Infobanknews baru-baru ini.

Baca juga: Direktur Utama Jalin Masuk Jajaran Top CEO 2024 Versi Infobank

Realisasi penyaluran kredit tersebut juga dibarengi dengan kualitas kredit. Menurut I Nyoman Sudharma, rasio Non Performing Loan (NPL) gross perseroan per September 2024 berada di level 1,14 persen lebih baik dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,24 persen.

Target dan Strategi hingga Akhir 2024

Hingga akhir Desember 2024, Bank BPD Bali menargetkan pertumbuhan kredit hingga 8 persen. Untuk merealisasikannya, perseroan telah menerapkan sejumlah strategi, termasuk mengoptimalkan penyaluran KUR hingga mencapai target 100 pesen dan mempercepat proses layanan kredit melalui pengembangan aplikasi Digiloan.

Dari sisi pendanaan (funding), lanjut I Nyoman Sudharma, perseroan mampu mengumpulkan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp33,29 miliar per September 2024, tumbuh 14,03 persen yoy dari Rp29,19 miliar pada tahun sebelumnya. 

“Komposisi dana murah (giro dan tabungan) terhadap total DPK mengalami peningkatan dari 69,16 persen posisi Q3-2023 menjadi 69,48 persen posisi Q3-2024,” tambah I Nyoman Sudharma.

Baca juga: Konsolidasi Bank Balik Arah, Bagaimana Pengawasan Konglomerasi

Sementara jika dilihat dari sisi rasio keuangan, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BPD Bali per September 2024 sebesar 67,59 persen lebih rendah dari rasio LDR posisi September 2023 sebesar 71,27 persen.

Sedangkan Return on Assets (ROA) Bank BPD Bali tercatat naik dari 3,29 persen di September 2023, menjadi menjadi 3,62 persen per September 2024. Ini menunjukkan bahwa perusahaan telah meningkatkan efisiensi atau produktivitas dalam memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan laba bersih.

Adapun Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Return On Asset (ROA) masing-masing tercatat berada di level 25,19 persen dan 3,62 persen.

Menutup kuartal III 2024, Bank BPD Bali mampu mencatatkan total aset Rp38,96 miliar. Aset ini mengalami pertumbuhan 13,25 persen yoy dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp34,40  miliar.

Strategi Bank BPD Bali di 2025

Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma. (Foto: Istimewa)

Menatap 2025, I Nyoman Sudharma mengaku, telah menyiapkan sejumlah strategi dalam menggenjot kinerja mesin bisnis Bank BPD Bali. Salah satu fokusnya adalah mendorong pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 9 persen, dengan komposisi kredit produktif minimal sebesar 57,50 persen. 

“Hal ini kami akan dorong dengan meningkatkan dan mempertahankan penyaluran kredit yang telah menjadi captive market. Lalu, kami juga akan meningkatkan penyaluran kredit produktif pada sektor prioritas tertentu yang memberikan insentif bagi bank,” ujarnya. 

Untuk kredit produktif, lanjut I Nyoman Sudharma, pihaknya akan menggenjot segmen UMKM sebagai salah satu motor penggerak perekonomian dan pembangunan daerah. 

“Kami akan mempertahankan share kredit UMKM minimal sebesar 51 persen dari total kredit bank,” jelasnya. 

Baca juga: Seminar Nasional BPD: Peran Digitalisasi Dalam Mendukung Perekonomian Daerah

Penyaluran kredit ini juga akan dibarengi dengan kualitas kredit melalui pengendalian NPL secara ketat dengan menetapkan NPL gross maksimal 1,75 persen, Kualitas Aktiva Produktif (KAP) maksimal 1,75 persen dan rasio Loan at Risk (LaR) maksimal 5,75 persen.

“Strateginya kami akan meningkatkan pemantauan terhadap kredit yang memiliki potensi bermasalah dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta menaati peraturan yang berlaku di bidang perkreditan,” jelasnya. 

Kemudian terkait jangkauan layanan dan akses, Bank BPD Bali akan memanfaatkan digitalisasi dan  meningkatkan aliansi strategis dengan sejumlah mitra. Misalnya, mengoptimalkan pemanfaatan delivery channel yang telah dimiliki bank dan mengembangkan ekosistem digital. 

Layanan digital bank juga diharapkan mampu berkontribusi dalam mendongkrak pertumbuhan penghimpunan DPK Bank BPD Bali. I Nyoman Sudharma menargetkan DPK bisa tumbuh sebesar 8 persen pada tahun depan.

“Komposisi CASA minimal 65 persen, dengan meningkatkan pertumbuhan rekening tabungan berbiaya administrasi minimal sebesar 18 persen dan penguasaan pensiunan minimal 90 persen dari ASN yang memasuki masa pensiun,” ujarnya. (*)

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

8 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

9 hours ago

CIMB Niaga Raih Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More

12 hours ago

Konsistensi Fundamental, Tugu Insurance Catat Laba Rp711 Miliar di 2025

Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More

15 hours ago

ICEx Resmi Meluncur, Bangun Infrastruktur Bursa Kripto RI Berstandar Global

Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More

20 hours ago

Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026

Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More

20 hours ago