Perbankan

Bank BPD Bali Kantongi Laba Bersih Rp878,47 M di 2024, Ini Faktor Penopangnya

Jakarta – Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) menutup tahun buku 2024 dengan mengantongi laba bersih sebesar Rp878,47 miliar. Angka itu melonjak 19,00 persen year on year (yoy) ketimbang Rp738,23 miliar di tahun sebelumnya.

Pencapaian ini tidak lepas dari keberhasilan Bank BPD Bali memacu pertumbuhan sekaligus menjaga kualitas kredit. Operasional bank yang dinakhodai I Nyoman Sudharma ini pun terbilang efisien, sehingga profitabilitasnya terjaga baik di tengah tren laba industri BPD yang terus terkoreksi.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kinerja laba industri BPD mengalai pertumbuhan negatif 6,10 persen per September 2024. Tren pertumbuhan minus ini sebenarnya sudah dialami industri BPD sejak Desember 2023, di mana laba industri terkoreksi 5,11 persen.

Baca juga: Ini Dia Tiga Stimulan Pendorong BPD Bisa Berlari Kencang

Berdasarkan laporan keuangan publikasi 20 Januari 2025, sepanjang 2024 Bank BPD Bali tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp38,31 triliun. Realisasi itu meningkat 11,66 persen secara tahunan. Kualita kredit juga terjaga sangat baik. Hal itu tercermin dari dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 0,92 persen. Sedangkan NPL net tercatat 0,02 persen.

Dari sisi likuiditas, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun Bank BPD Bali tumbuh 13,09 persen, atau menjadi Rp32,16 triliun per akhir 2024. Struktur DPK bank ini pun didominasi dana murah (CASA). Rasio CASA tercatat 70,80 persen, menjadi salah satu yang terbesar di industri BPD.

DPK yang tumbuh solid membuat loan to deposit ratio (LDR) Bank BPD Bali berada di posisi 70,95 persen, turun dibandingkan 75,65 persen di tahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan bahwa Bank BPD Bali masih mempunyai likuiditas yang ample untuk menopang ekspansi bisnisnya. Apalagi modalnya pun masih sangat tebal, dengan rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 27,45 persen.

Baca juga: Obral Pengampunan “Dosa” SLIK-OJK untuk Debitur “Hitam” Jangan Sampai Membuang “Sampah” di Buku Bank

Dari sisi pendapatan, kredit yang tumbuh positif mendatangkan pendapatan bunga sebesar Rp3,35 triliun bagi Bank BPD Bali. Angka itu tumbuh 7,46 persen dari tahun sebelumnya. Di lain sisi, DPK yang tumbuh double digit ikut mendorong kenaikan beban bunga sebesar 14,17 persen, atau menjadi Rp945,44 miliar.

Meski beban bunga melonjak cukup tinggi, Bank BPD Bali tetap berhasil menjaga pendapatan bunga bersih sebesar Rp2,40 triliun, atau tumbuh 5,73 persen secara tahunan. Hal ini tidak lepas dari operasionalnya yang semakin efisien. Lihat saja rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang berhasil ditekan ke posisi 66,85 persen, jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional.

Bank BPD Bali pun menutup tahun buku 2024 dengan total aset sebesar Rp38,31 triliun, atau mengembang 11,66 persen dibandingkan Rp34,31 triliun di tahun sebelumnya. (*) Ari Astriawan

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

7 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

13 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

13 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

13 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

13 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

13 hours ago