Perbankan

Bank BJB Syariah Kantongi Laba Rp60,27 Miliar di 2024, Pembiayaan Tumbuh di Atas Industri

Jakarta – Laba bersih Bank Jabar Banten Syariah (Bank BJB Syariah) tumbuh baik di 2024. Laba bersih bank ini tercatat Rp60,27 miliar, tumbuh 3,00 persen dibandingkan 2023 yang sebesar Rp58,52 miliar. Hanya saja, pertumbuhan ini masih berada di bawah rata-rata industri perbankan yang mencatatkan kenaikan laba sebesar 4,88 persen pada tahun yang sama.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi Bank BJB Syariah per akhir 2024 yang dirilis Senin, 24 Maret 2025, pendapatan setelah distribusi bagi hasil bank yang dipimpin Arief Setyahadi sebagai direktur utama ini naik 5,87 persen menjadi Rp598,05 miliar, didorong oleh kenaikan pendapatan dari penyaluran dana sebesar 12,57 persen menjadi Rp1,03 triliun. Namun, beban bagi hasil untuk pemilik dana investasi meningkat tajam sebesar 23,33 persen menjadi Rp433,85 miliar.

Efisiensi operasional tampaknya menjadi tantangan tersendiri bagi Bank BJB Syariah, terlihat dari kenaikan rasio BOPO dari 92,31 persen menjadi 93,14 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang sebesar 81,30 persen. Idealnya, BOPO berada pada level 85 persen agar bank dapat lebih optimal dalam menjalankan bisnisnya. Sementara itu, beban operasional lainnya naik 6,89 persen atau dari Rp489,38 miliar di 2023 menjadi Rp521,63 miliar di 2024.

Baca juga: Bank Sulselbar Kantongi Laba Rp657,66 Miliar Sepanjang 2024

Di sisi aset, Bank BJB Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,14 persen menjadi Rp14,62 triliun, melampaui pertumbuhan industri yang sebesar 5,91 persen. Tapi, DPK tumbuh 1,80 persen menjadi Rp10,32 triliun, di bawah rata-rata industri yang mengalami pertumbuhan sebesar 4,48 persen. Adapun rincian DPK Bank BJB Syariah, giro turun 3,95 persen menjadi Rp1,57 triliun, tabungan meningkat 5,61 persen menjadi Rp2,47 triliun, dan deposito naik 1,89 persen menjadi Rp6,27 triliun.

Meski kinerja DPK relatif lambat, kabar baiknya, pembiayaan Bank BJB Syariah justru memelesat 11,59 persen menjadi Rp9,80 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri yang sebesar 10,52 persen. Kenaikan pembiayaan ini berdampak pada rasio financing to deposit ratio (FDR) yang melonjak dari 85,23 persen menjadi 93,65 persen, melebihi batas ideal industri yang berada di rentang 78 -92 persen.

Lebih jauh, kualitas aset tampaknya perlu diberi perhatian lebih manajemen bank ini, dengan meningkatnya rasio non performing financing (NPF) gross dari 3,35 persen menjadi 3,65 persen, meskipun masih di bawah batas aman yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen. Sementara itu, NPF net juga mengalami kenaikan dari 1,38 persen menjadi 1,86 persen yang menunjukkan adanya peningkatan risiko pembiayaan bermasalah.

Dari sisi permodalan, Bank BJB Syariah tetap stabil dengan modal inti sebesar Rp1,85 triliun, sementara rasio kecukupan modal (CAR) sedikit menurun dari 20,14 persen menjadi 18,70 persen. Profitabilitas bank mengalami sedikit tekanan, tercermin dari penurunan return on assets (ROA) dari 0,62 persen menjadi 0,57 persen dan return on equity (ROE) dari 4,66 persen menjadi 4,56 persen. Net operating margin (NOM) juga turun dari 0,66 persen menjadi 0,32 persen, menandakan adanya tekanan pada margin keuntungan operasional.

Baca juga: Top! Laba Bersih Bank Kalsel Tumbuh 18,16 Persen Jadi Rp298,06 Miliar di 2024

Dari segi efisiensi, net interest margin (NIM) atau net imbalan (NI) turun dari 5,08 persen menjadi 4,73 persen, meskipun masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang berada di 4,62 persen . Hal ini menunjukkan bahwa meskipun bank masih memiliki daya saing dalam menghasilkan pendapatan dari pembiayaan, tekanan terhadap efisiensi operasional tetap menjadi tantangan utama.

Secara keseluruhan, Infobank Institute memandang Bank BJB Syariah menunjukkan pertumbuhan positif dalam aset dan pembiayaan, meskipun menghadapi tantangan dalam efisiensi operasional dan likuiditas. Dengan FDR yang tinggi dan BOPO yang kurang efisien, bank ini perlu mengoptimalkan strategi pengelolaan dana dan efisiensi biaya operasional guna meningkatkan daya saingnya di industri perbankan syariah yang semakin kompetitif. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

5 hours ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

5 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

5 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

5 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

9 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

12 hours ago