Head of Investment & Insurance PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo dalam Journalist Class di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026. (Foto: Alfi Salima Puteri)
Poin Penting
Jakarta – Di tengah penetrasi asuransi Indonesia yang masih rendah, PT Bank DBS Indonesia mencatatkan pertumbuhan solid pada bisnis bancassurance sepanjang 2025. Saat sebagian pelaku industri masih menghadapi tantangan literasi dan daya beli, DBS menegaskan kanal perbankan tetap menjadi mesin pertumbuhan distribusi asuransi.
Head of Investment & Insurance PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menegaskan bahwa lini bancassurance DBS terus tumbuh double digit secara konsisten, sejalan dengan pertumbuhan bisnis investasi bank.
“Setiap tahun bisnis bancassurance kita selalu tumbuh. Untuk bancassurance, pertumbuhannya sudah pasti double digit,” ujarnya dalam acara Journalist Class di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Baca juga: Geopolitik Memanas, DBS Ungkap 2 Aset Investasi Paling Diuntungkan
Djoko menjelaskan, pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kontribusi premi baru yang menjadi sumber terbesar pendapatan bancassurance DBS.
“Kalau dilihat, pertumbuhan paling besar memang berasal dari premi baru,” kata Djoko.
Menurut Djoko, meski penetrasi asuransi nasional masih stagnan, minat dan kesadaran masyarakat terhadap asuransi menunjukkan tren peningkatan. Akses informasi yang semakin luas serta peran media sosial dalam menyebarkan cerita dan pengalaman nyata membuat edukasi asuransi tidak lagi bersifat satu arah.
“Kalau penetrasi memang masih rendah, sekitar 2 sampai 3 persen. Tapi kalau bicara minat, saya rasa ada yang bertambah,” ujarnya.
Baca juga: IHSG Diproyeksi Tembus 9.800 pada 2026, DBS Beberkan Pendorongnya
Namun, ia menilai tantangan utama industri asuransi saat ini bukan lagi soal kesadaran, melainkan konsistensi dalam mengeksekusi keputusan berasuransi.
“Ada orang yang sudah sadar asuransi itu penting, tapi belum melakukan. Itu yang masih menjadi pekerjaan rumah,” jelasnya.
Di tengah tren unit link yang mulai kembali dilirik sebagian pelaku industri, DBS justru mencatat dominasi produk asuransi tradisional dalam portofolio bancassurance-nya. Produk seperti whole life, legacy, dan endowment menjadi kontributor utama.
“Kalau dari DBS, porsinya lebih banyak produk tradisional,” imbuh Djoko.
Baca juga: DBS Indonesia Gelar Diskusi Kebijakan, Prospek, dan Peran Perbankan
Bahkan, kontribusi produk tradisional tersebut mencapai di atas 70 persen hingga 80 persen dari total bisnis bancassurance DBS. Hal ini menunjukkan preferensi nasabah DBS yang cenderung mencari kepastian manfaat dan perencanaan jangka panjang, dibandingkan eksposur risiko pasar. (*) Alfi Salima Puteri
PT ALTO Network meluncurkan dua layanan digital terbaru, yaitu Askara Connect dan Askara Collab, untuk… Read More
Poin Penting Hijrah finansial sebagai transformasi menyeluruh, bukan sekadar pindah produk keuangan, tetapi perubahan cara… Read More
Poin Penting Saham BBCA turun sekitar 19 perse ytd, sejalan pelemahan IHSG, namun dinilai sebagai… Read More
Poin Penting KCIC mengecam penumpang yang menahan pintu Whoosh di Padalarang karena melanggar aturan dan… Read More
Poin Penting IHSG menguat signifikan 2,07 persen ke level 7.458,49, didorong dominasi saham naik (485… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan mencatat rasio kredit bermasalah pindar (TWP90) naik menjadi 4,38% pada… Read More