Awas! OJK Diam-Diam Nyamar jadi Intel di Warung Kopi, Gali Informasi Pasar Modal

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diam-diam memiliki tim intelijen yang mengamati gerak-gerik dan perilaku para perusahaan tercatat alias emiten di pasar modal Tanah Air.

“Di OJK itu ada fungsi intelijen. Jadi, mereka menggali berbagai informasi saat ngopi atau ngobrol. Nah, dari informasi itu, akan ketahuan satu emiten itu bagaimana, satu bank itu bagaimana,” ungkap Tim Ekonom Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming, Dr. Drajat Wibowo, di Jakarta, 8 Januari 2024.

Menurutnya, apabila ada informasi yang cukup berbahaya bagi para investor, maka akan diteruskan ke otoritas dan segera ditindaklanjuti.

Dalam praktiknya kata dia, intelijen OJK berperan kepada penyelidikan. Di mana, mereka bisa melakukannya melalui big data. Tetapi, tidak semua informasi ada di big data.

Baca juga: Apindo Tekankan Pentingnya Pasar Modal bagi Investasi di Indonesia

“Informasi kadang kita dapatkan dari coffe shop. Kadang kita lagi makan gak sengaja orang ini cerita begini-begini. Seperti saya barusan tadi dapat cerita tentang apa yang dilakukan oleh seorang mantan dirjen misalkan, begini-begini,” bebernya.

Termasuk aksi ‘goreng saham’ yang merugikan para investor. Di mana, ada miss persepsi karena goreng saham tersebut.

“Itu seperti penyakit, kolesterolnya pasar modal. Itu yang harus dibereskan kalau enggak begitu, investor gak bakal percaya,” tandasnya.

Penguatan Fungsi Intelijen 

Namun sayangnya, intelijen yang dimiliki OJK tidak se-power full seperti yang dimiliki oleh BIN, Polri dan KPK. Oleh karena itu, pihaknya akan berencana untuk meningkatkan fungsi intelijen dalam peta jalan OJK.

“Mereka (OJK) tidak memiliki kewenangan itu seperti yang dilakukan BIN, Polri dan KPK,” jelasnya. 

Artinya, fungsi intelijen tersebut harus diperkuat dan dimaksimalkan oleh OJK. Sebab, dirinya menilai selama ini fungsi intelijen belum maksimal.

Baca juga: Ini 3 Catatan Penting Wapres Ma’ruf Amin untuk Pasar Modal Indonesia

“Intelijen ekonomi, sesuai dengan kewenangan mereka itu belum maksimal,” jelasnya.

Drajat berujar, ketika bekerja di BIN dulu, pihaknya pernah membahas perihal bagaimana melatih tim di OJK maupun di Bank Indonesia (BI).

Hal ini terkait dengan fungsi-fungsi intelijen yang bisa lakukan dalam kewenangan mereka tanpa harus melangkahi atau masuk ke ranah kewenangan badan-badan atau lembaga-lembaga intelijen.

“Itu sebenarnya mereka bisa lakukan. Namun, saya lihat masih belum maksimal sehingga ya kadang-kadang akhirnya jadi kecolongan. Dan beberapa kasus kecolongan ini, itu karena fungsi intelijennya gak berjalan dengan bagus,” bebernya. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

4 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

4 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

5 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

9 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

17 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

18 hours ago