Awas, NPF Bisa Meledak Lagi

SEBAGIAN bankir bank syariah masih deg-degan melewati kalender 2017. Kendati mulai memanaskan “mesin-mesinnya” dan ingin bisa kembali tancap gas, nyatanya sektor riil dan daya beli masyarakat masih lemah. Ruang pertumbuhan masih sempit dan hujan non-performing financing (NPF) yang melanda sejak tiga tahun terakhir belum sepenuhnya reda.

Secara industri, NPF perbankan syariah yang dihuni 13 bank umum syariah (BUS) dan 21 unit usaha syariah (UUS) masih 4,35 persen per Mei 2017. Pembiayaan macet banyak disumbang oleh BUS. Selain NPF-nya 4,75 persen, secara pangsa aset BUS hampir mencapai 70 persen terhadap aset perbankan syariah yang mencapai Rp375,74 triliun per Juni 2017. Sedangkan pangsa aset UUS hanya 27,50 persen dan sisanya bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).

Menurut data Biro Riset Infobank (birI) per Maret 2017, dari 13 BUS yang ada di Indonesia, separuhnya mencatat NPF di atas 4 persen, bahkan tiga di antaranya merah menyala, jauh di atas ketentuan NPF minimum 5 persen. Ketiga bank itu ialah Bank Victoria Syariah yang mencatat NPF 8,49 persen, Bank BJB Syariah mencatat NPF 18,13 persen, dan Bank Maybank Syariah Indonesia yang NPF-nya masih membara sebesar 46,55 persen. Kendati modal intinya otomatis telah tergerus secara signifikan, bantalan modal ketiga BUS tersebut masih memadai asal asetnya tidak dilahap api NPF yang baru.

Isu permodalan justru masih menerpa Bank Muamalat. Kendati telah berhasil menjinakkan NPF menjadi di bawah 5 persen, suntikan modal baru sangat dibutuhkan agar restrukturisasi di Bank Muamalat tidak jalan di tempat dan kembali berlari pertumbuhannya seperti periode sebelum 2014. Biro Riset Infobank mencatat, pada 2016 laba Bank Muamalat kembali merosot setelah mengalami pertumbuhan positif pada 2015. Dengan capital adequacy ratio (CAR) sekitar 12 persen, prospek kinerja Bank Muamalat tahun ini sangat tergantung pada masuknya modal baru.

Ingin tahu lengkapnya? Semua dikupas dalam Majalah Edisi Khusus Syariah Infobank

Paulus Yoga

Recent Posts

Kinerja Himbara Turun, OJK Sebut Faktor Siklikal dan Berpotensi Rebound

Poin Penting OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan… Read More

25 mins ago

Tugu Insurance Wujudkan Kepedulian terhadap Alam melalui Program Tugu Green Journey

Poin Penting Tugu Insurance menjalankan program Tugu Green Journey dengan mendaur ulang 1,7 ton limbah… Read More

1 hour ago

Kasus Dugaan PHK Mie Sedaap Didalami Menaker, Ini Perkembangannya

Poin Penting Kemnaker masih menyelidiki dugaan PHK sekitar 400 pekerja PT Karunia Alam Segar, produsen… Read More

2 hours ago

Laba CIMB Niaga (BNGA) 2025 Tumbuh Tipis jadi Rp6,93 Triliun

Poin Penting CIMB Niaga mencatat laba bersih Rp6,93 triliun pada 2025, tumbuh tipis 0,53% secara… Read More

3 hours ago

OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim, Ini Targetnya

Poin Penting OJK dan Pemerintah Inggris Raya membentuk Kelompok Kerja Pembiayaan Iklimuntuk mempercepat pembiayaan iklim… Read More

3 hours ago

IHSG Ditutup Lanjut Merosot 1,04 Persen, Ini Penyebabnya

Poin Penting IHSG ditutup turun 1,04 persen ke level 8.235,26 akibat sentimen negatif dari kebijakan… Read More

3 hours ago