Teknologi

Awas! Ini Tiga Ancaman Cybercrime Global

Jakarta – Transformasi digital perbankan semakin gencar, namun regulator maupun perbankan masih harus menghadapi kejahatan siber yang semakin meningkat setiap tahunnya. Secara global di tahun 2021 sebesar 22,40 % serangan siber terjadi di sektor keuangan, 70% nya ditujukan kepada bank.

“Digital selalu berevolusi untuk memberikan kenyamanan untuk nasabah, jadi user experiencenya bagus, multi koneksinya itu selalu meningkat, tapi jangan lupa orang yang ingin merusak selalu meningkat, mereka punya lab sendiri mereka adalah orang-orang PhD mereka dibiayai unlimited, makanya ini adalah constantly evolving industry,” ujar Chief Information Security Officer Bank Mandiri, Saladin D. Effendi dalam seminar Infobank bertema ‘Mengukur Percepatan Transformasi Digital Perbankan: Bagaimana Strategi Mitigasi dan Kesiapan Bank Menghadapi Cybercrime?’ Selasa, 17 Mei 2022.

Menurutnya, ada tiga ancaman kejahatan siber teratas global 2022, jejak digital organisasi modern yang terus berkembang mendorong tren keamanan siber, yaitu social engineering & ransomware, identity & access control attack, serta supply chain attack.

“Social engineering dan ransomware, sebenarnya orang-orang sering klak-klik gara-gara kerja di rumah 47% ternyata terjebak, kemudian ransomware meningkat data dari tahun 2020 ke 2021 itu 435% karena sudah ada servicenya didownload bisa diambil bisa nyerang ini thread nomer satu, thread keduanya identity & access control attack,” jelas Saladin.

“Supply chain attack adalah varian terbaru karena dulu membuat backdoor di software dan malware begitu dibuat ada code, tapi sekarang memakai software yang digunakan, feed Microsoft dibelokin ke side-nya, sehingga seolah-olah kita percaya bahwa ini auto update tapi ternyata tidak,” tambah dia.

Kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan saat serangan siber bisa mengadopsi dari berbagai sumber, yaitu regulasi, standar internasional, best practice internasional yang disusun menjadi 4 protection layer.

“Layer pertama paling luar awareness tujuan kita ingin membuat semua orang di organisasi dari atas sampai bawah itu aware terhadap security, kedua operation control tidak ada sistem yang 100% automate, lalu IT security ada tiga pilar governance, protection dan operation, serta terakhir fraud management,” kata Saladin.

Dalam hal ini, lanjut dia, para nasabah juga harus lebih berhati-hati untuk tidak memberikan kode OTP, dan password kepada pihak yang tidak bertanggung jawab. (*) Irawati

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Ramadan-Lebaran 2026

Poin Penting Bank Mandiri menyiapkan Rp44 triliun uang tunai untuk ATM/CRM selama 24 Februari-25 Maret… Read More

11 mins ago

AdaKami Berkontribusi hingga Rp10,96 Triliun ke PDB Nasional

Poin Penting Riset LPEM FEB UI: kontribusi AdaKami ke PDB 2024 Rp6,95–Rp10,96 triliun, berdampak ke… Read More

58 mins ago

Maybank Indonesia Bukukan Laba Bersih Rp1,66 Triliun pada 2025, Naik 48,5 Persen

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk membukukan laba bersih Rp1,66 triliun pada 2025, naik… Read More

1 hour ago

Viral Penusukan Nasabah oleh Debt Collector, OJK Panggil MTF

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memanggil manajemen PT Mandiri Tunas Finance (MTF) untuk klarifikasi… Read More

2 hours ago

Akselerasi Alih Teknologi di KEK Batang, Ratusan Pekerja Lokal Dikirim Belajar ke China

Poin Penting Tenant PT Ace Medical Products Indonesia di KEK Industropolis Batang mengirim 156 pekerja… Read More

3 hours ago

Komisi III DPR Dorong Class Action usai Kekerasan Debt Collector Berulang

Poin Penting Anggota Komisi III DPR RI Abdullah mengusulkan gugatan class action menyusul kembali terjadinya… Read More

4 hours ago