Lebih lanjut dia menambahkan, dalam penerapan redenominasi, pemerintah perlu mengeluarkan anggaran besar di tengah kondisi anggaran negara yang masih dibayangi oleh defisit. Padahal, belum lama ini BI baru saja menerbitkan uang rupiah emisi baru.
“Biayanya mahal untuk melakukan redenominasi, padahalkan kita baru saja mengeluarkan mata uang baru, nah ini otomatiskan bikin uang baru lagi kalau redenominasi. Kalo saya sih lebih banyak ke pertimbangan ekonomisnya,” tegasnya.
Baca juga: DPR Beri Sinyal Redenominasi Masuk Prolegnas Tahun Ini
Namun demikian, dirinya tetap mendukung wacana pemerintah dan BI terkait dengan penyederhanaan nominal rupiah tersebut. Menurutnya, saat ini jumlah nol dalam mata uang rupiah masih terlalu banyak, sehingga perlu disederhanakan seperti mata uang di negara lain.
“Sebenarnya kita sepakat ya pada redenominasi. Karena kan sekarang nilai tukar kita paling besar nominalnya. Kalau pertimbangan prinsip sih saya setuju karena ke depan kita harus sama lah dengan mata uang lain,” tutupnya. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Oleh Muhammad Edhie Purnawan, Staf Pengajar FEB UGM dan Ketua Bidang International Affairs PP ISEI… Read More
Poin Penting Komisi III DPR mengecam penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras Andrie Yunus dan… Read More
Poin Penting BNI menyediakan pembelian Sukuk Ritel SR024 melalui aplikasi wondr by BNI dengan cashback… Read More
Poin Penting BNI mengajak masyarakat merencanakan keuangan selama Ramadan melalui fitur Growth di aplikasi wondr… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mengajak masyarakat berdonasi untuk membantu penyintas kecelakaan lalu lintas yang mengalami… Read More
Cermati Fintech Group menggelar program mudik gratis #MAUDIKBersama sebagai bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial… Read More