asuransi astra
Jakarta — PT Asuransi Astra membukukan pendapatan premi sebesar Rp2,8 triliun sampai Agustus 2018. Menurut direksi perusahaan, pencapaian tersebut mengalami kenaikan 4-5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Rudy Chen, Presiden Direktur Asuransi Astra, mengatakan, kenaikan pendapatan premi tersebut lebih tinggi dari pendapatan premi yang dicatatkan oleh industri. Dia juga mengatakan, faktor pendukung utama kenaikan tersebut adalah dari sektor otomotif.
“Pertumbuhan industri cukup prudent. Namun, masih ada beberapa sektor yang mengalami kenaikan di industri asuransi umum. Salah satunya yang mengalami kenaikan adalah sektor otomotif,” paparnya.
Meski mengalami peningkatan yang tidak tinggi, dirinya optimistis bahwa kenaikan tersebut masih akan terjadi sampai akhir tahun nanti. Belum lagi dengan adanya layanan terbaru yang baru saja diluncurkan oleh perusahaan.
Baca juga :
Rayakan HUT, Asuransi Astra Luncurkan Garda Oto Digital
Kekuatan PR Jadikan Asuransi Astra Sebagai Asuransi Pilihan
Dia juga melanjutkan, dari total pencapaian premi tersebut, kontribusi pendapatan terbesar diperoleh dari nasabah ritel sebesar 55 persen. Kontribusi dari nasabah komersial dan korporasi mencapai 35 persen dan sisanya didapatkan dari nasabah health care.
Porsi klaim yang dicatatkan perusahaan juga pada posisi yang stabil. Rudy mengatakan, setiap tahunnya ada 12-13 ribu klaim. “Ada 1.000-1.500 setiap bulannya. Semenjak ada layanan Garda Center, layanan klaim di sana mencapai sepertiga dari total klaim yang ada,” tutupnya.
Poin Penting Pemerintah memastikan kebijakan WFH diterapkan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sektor layanan… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan pengambilalihan PNM dari BPI Danantara untuk dijadikan… Read More
Poin Penting Keamanan OCTO Biz diperkuat dengan sistem berlapis termasuk enkripsi data, autentikasi pengguna, dan… Read More
Poin Penting KB Bank Syariah menghadirkan layanan deposito digital melalui aplikasi BISA Mobile untuk memperluas… Read More
Poin Penting Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93 persen PDB), lebih tinggi… Read More
Poin Penting: Ketua Banggar DPR menolak pengurangan subsidi BBM karena dinilai membebani masyarakat kecil. Penyesuaian… Read More