Asia Tenggara jadi Lahan Subur Pembayaran Online dan Perbankan Digital

Asia Tenggara jadi Lahan Subur Pembayaran Online dan Perbankan Digital

Ekonomi Digital
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Pembayaran online dan perbankan digital di seluruh Asia Tenggara meningkat pesat selama pandemi Covid-19 (corona). Itu karena, seluruh wilayah kini lebih memilih untuk menghindari cabang bank secara langsung yang dianggap sebagai ruang publik di mana virus corona dapat berkembang. Hal ini pun memicu peningkatan atau penggunaan transaksi pembayaran yang lebih aman yaitu e-wallet dan aplikasi pembayaran seluler.

Namun demikian, faktanya pada akhir 2019 sebelum efek besar pandemi di seluruh Asia Tenggara terjadi, transaksi keuangan online di wilayah tersebut akan menjadi bisnis US$1 triliun pada tahun 2025 dan segmen dompet digital akan melonjak lima kali lipat menjadi Us$114 miliar selama tahun yang sama.

Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky mengatakan, Asia Tenggara menjadi lahan subur bagi perbankan digital dan sistem pembayaran online, karena Asia Tenggara menampung negara-negara dengan populasi muda atau kaum milenial dan Gen Z. Dimana, mereka tidak terbiasa mengunjungi gedung-gedung keuangan secara fisik, mengantri lama untuk mengisi formulir dengan pena dan kertas, seperti yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

“Faktor penting lainnya adalah masih terdapat persentase signifikan dari individu yang masih berada dalam posisi unbanked atau underbanked, yang berarti mereka tidak memiliki rekening bank atau laporan kredit sebelumnya. Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang masih berkembang seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam,” ujarnya di Jakarta Senin, 31 Agustus 2020.

Selain itu, berbagai teknologi sebagai penunjang pun akan terus dikembangkan, seperti AI, 5G, Internet of Things, cryptocurrency, dan masih banyak lagi. Tetapi, menurut Yeo Siang, sektor keuangan harus belajar dari kejadian masa lalu, terutama dari insiden kejahatan siber. Bank dan penyedia layanan pembayaran elektronik perlu menangani keamanan siber dengan serius.

Berkaca dari insiden pencurian Bank Bangladesh senilai US$81 juta yang mengguncang dunia pada tahun 2016. Insiden ini dimulai dengan email spear-phishing yang diklik oleh karyawan secara tidak sengaja dan akhirnya menimbulkan kerugian mulai dari profesional, reputasi, dan finansial.

“Kita berada di tengah revolusi digital dan penggunaan pembayaran online serta dompet elektronik pasti akan tetap ada dan bahkan meningkat. Meskipun merupakan tanggung jawab besar bagi bank dan penyedia layanan keuangan untuk mengamankan sistem virtual mereka, saya yakin mereka dapat merintis jalan ke masa depan selama mereka membangun pertahanan siber dengan cerdas,” pungkasnya. (*) Ayu Utami

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]