Keuangan

Artajasa Ingatkan Pelaku Industri Keuangan Jangan Sepelekan Risiko Fraud

Poin Penting

  • Komitmen perusahaan Indonesia terhadap keamanan siber baru 2%, sehingga risiko fraud dan scam tinggi.
  • Scam di Indonesia mencapai 274.772 kasus (2024–2025) dengan kerugian hampir 4 kali lipat dibanding 2022.
  • Direktur Utama Artajasa, Armand Hermawan mengajak bank, fintech, dan pelaku keuangan lain bekerja sama untuk cegah fraud dan memperkuat keamanan siber.

Jakarta – Maraknya peristiwa scam dan potensi fraud di industri keuangan bisa jadi karena masih rendahnya kesadaran perusahaan dalam menjaga ruang siber. Hal ini menjadi perhatian khusus dari PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa).

Direktur Utama Artajasa, Armand Hermawan, menemukan data dari PricewaterhouseCoopers (PwC) tahun 2025 yang menunjukkan bahwa komitmen perusahaan untuk meningkatkan resiliensi keamanan siber baru sebesar 2 persen.

“Artinya apa? Belum semuanya understand, belum semuanya agree, belum semuanya mau commit bahwa ini adalah hal yang terpenting untuk mengurangi fraud ataupun cyber risk ataupun penciptaan digital trust di ekosistem kita,” kata Armand pada acara Infobank Institute bertajuk Digital “Payment & Security Outlook 2026-2030: Trends, Competitive Landscape and Forecast Insight”, Kamis, 20 November 2025.

Baca juga: Waspada! Ini Sederet Modus Fraud yang Sering Dialami Nasabah BNI

Lebih lanjut, Armand menilai kesadaran publik Indonesia terhadap kejahatan virtual masih rendah. Indonesia merupakan negara yang sering mengalami penipuan daring (scam). Dari 2024 sampai 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat ada 274.772 peristiwa scam, lebih tinggi dibandingkan Malaysia (253.553) dan Singapura (51.501)

Hal ini tecermin juga dari meningkatnya total kerugian akibat scam dan fraud. Pada 2022, angkanya “hanya” sebesar Rp1,6 triliun. Namun hingga September 2025,kerugian melonjak hampir 4 kali lipat.

Awareness dari orang Indonesia terhadap risk (fraud dan scam), itu belum terbentuk. Jadi, mengartikulasikan uncertainty menjadi risk, dan risk menjadi number itu belum bisa di Indonesia. Beda misalnya dengan Singapura,” imbuhnya.

Mitigasi Risiko Belum Optimal di Indonesia

Armand mencontohkan bagaimana Singapura dapat memitigasi risiko seperti durasi listrik padam dalam setahun atau potensi demonstrasi, sehingga investor lebih memahami situasi negara. Sederhana, namun praktik ini belum diterapkan secara optimal di Indonesia.

Menurutnya, ketidakpastian membaca situasi scam dan fraud masih sering terjadi. Padahal, peristiwa seperti itu harus bisa dimitigasi seminimal mungkin.

“Semua uncertainty harus diartikulasikan menjadi risk, dan semua risk harus diartikulasikan jadi financial loss. Kalau tidak ada yang mengkalkulasi, bagaimana mau memitigasi risiko? Gimana mau menahan atau preventif serangan?” ungkap Armand.

Baca juga: Dibayangi Risiko Fraud, Kopdes Merah Putih Diawasi Ketat KPK dan Kejagung

Ditambah lagi, fraud dan scam di industri keuangan punya potensi melibatkan para peretas yang persisten dan punya modal besar. Untuk itu, Armand mengajak para pelaku keuangan untuk meningkatkan kolaborasi dalam menjaga keamanan siber.

“Kita harus bersama-sama berkolaborasi antara bank, fintech, switching, atau dengan penunjang lainnya. Kita harus bersama-sama untuk menjaga jangan sampai terjadi financial fraud,” tegasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

11 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

11 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

12 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

18 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

18 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

19 hours ago