Jakarta – Dalam upaya memperkuat ketahanan sistem keuangan global terhadap dinamika makroekonomi dan risiko iklim, Aptivaa, penyedia solusi kecerdasan buatan (AI) dan analitik menggelar executive roundtable bertajuk “Advanced Artificial Intelligence Frameworks & Holistic Risk Mitigation: Integrating Macro-Economic and Climate Risk Analytics into Dynamic Stress Testing Architectures” di The Westin Jakarta, Selasa, 15 April 2025.
Kegiatan ini menghadirkan para pakar internasional dan praktisi terkemuka untuk membahas inovasi terkini dalam manajemen risiko berbasis AI serta integrasi faktor iklim dalam arsitektur stress testing dinamis.
Dalam dekade terakhir, sektor keuangan global dihadapkan pada tantangan multidimensi, mulai dari volatilitas makroekonomi, transisi energi, hingga dampak krisis iklim yang kian nyata. Di sisi lain, kemajuan AI dan analitik prediktif menawarkan solusi transformatif untuk mengoptimalkan manajemen risiko dan pengambilan keputusan strategis.
Baca juga: Bos IBM Ungkap Sederet Tantangan Perusahaan RI Adopsi Teknologi AI
Konferensi ini dirancang sebagai platform kolaboratif bagi pelaku industri, regulator, dan akademisi untuk mengeksplorasi pendekatan holistik dalam merespons kompleksitas risiko masa depan.
Menurut Arief Kusuma, Country Director Aptivaa Indonesia, integrasi AI dan analisis risiko iklim ke dalam model stress testing bukan lagi sekadar opsi, melainkan imperatif strategis.
“Acara ini menjadi momen krusial bagi institusi keuangan di Indonesia dan Asia Tenggara untuk mengakselerasi kapabilitas resilensi mereka,” ujar Arief.
Dalam kesempatan tersebut, Sandip Mukherjee, Co-Founder Aptivaa dan Cognext, menyoroti peran AI dalam mentransformasi industri keuangan. Selanjutnya, sesi utama yang dipimpin Vivek Gupta, Managing Director-Middle East Aptivaa, memaparkan dua presentasi bertajuk “Harnessing the Power of AI for Enhanced Risk Management in Banking” dan “Transforming Financial Operations Through Advanced Analytics”.
“Kedua sesi ini mengulas penerapan AI dalam mengoptimalkan operasi keuangan, mulai dari deteksi risiko kredit hingga optimasi portofolio investasi,” kata Arief.
Puncak acara adalah diskusi panel bersama Ashley Cherian, Director-Advisory dan Nasir M. Ahmad, Managing Partner-Climate Risk yang memaparkan “Good Practice Guide to Integrated Stress Testing: Macro-Economic Factors Including Climate Risk”.
Salah satu highlight diskusi panel ini adalah penekanan pada climate risk analytics sebagai komponen kritis dalam manajemen risiko modern.
“Risiko iklim bersifat sistemik dan multidisiplin. Model stress testing konvensional perlu diadaptasi dengan data real-time dan skenario transisi yang dinamis, di sinilah AI berperan sebagai enabler utama,” ujar Nasir.
Baca juga: Teknologi Informasi, Kunci Efisiensi dan Inovasi di Dunia Perbankan
Sebagai negara dengan eksposur tinggi terhadap risiko iklim dan gejolak makroekonomi, inisiatif semacam ini menjadi katalis bagi transformasi sektor keuangan Indonesia. Dengan menggabungkan kepakaran global dan konteks lokal, Aptivaa berkomitmen mendorong adoposi teknologi yang selaras dengan prinsip berkelanjutan (sustainable finance) dan ketahanan sistemik.
Executive roundtable ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pertukaran ide, tetapi juga tonggak awal bagi terciptanya kerangka regulasi dan praktik terbaik yang lebih tangguh di era ketidakpastian. (*)
Poin Penting Ekonomi RI 2025 diproyeksi tumbuh 5,07 persen yoy, lebih tinggi dari realisasi 2024… Read More
Poin Penting Sepanjang 2025, Bank Mandiri merealisasikan 1.174 program TJSL di 12 wilayah Indonesia sebagai… Read More
Poin Penting Pemerintah dan Komisi XI DPR RI sepakat membentuk panja untuk membahas revisi UU… Read More
Poin Penting OJK dan BEI perkuat sinergi penegakan hukum untuk menjaga integritas pasar modal, termasuk… Read More
Poin Penting Status JKN PBI mendadak nonaktif akibat penyesuaian data, bukan pengurangan jumlah penerima bantuan… Read More
Poin Penting OJK menyiapkan kenaikan minimum free float emiten secara bertahap hingga 15 persen dalam… Read More