Keuangan

APPI Dorong Perbankan Kembali Salurkan Pendanaan ke Multifinance

Jakarta – Pandemi Covid-19 memukul kinerja industri multifinance. Meski kinerja pembiayaan merosot, daya tahan industri multifinance diklaim sangat baik. Sejumlah perusahaan pembiayaan mengalami kesulitan mendapat pendanaan dari perbankan. Tapi tetap bisa bertahan dengan mengandalkan cashflow dari collection. Agar industri kembali tumbuh, pelaku multifinance mengharapkan perbankan memberikan dukungan pendanaan.

“Perbankan sangat hati-hati. Semoga kita bisa kembali bersinergi agar kita tetap tumbuh. Saya selalu sampaikan ke perbankan, inilah saatnya perbankan masuk kembali, menyalurkan pendanaan ke multifinance. Pelaku perusahaan pembiayaan sudah sangat hati-hati dan punya infrastruktur yang baik. Sebelum memberikan pembiayaan, kami melakukan pengecekan lewat SLIK. Individu yang pernah macet tentu akan ketahuan. Semua ini menjadi infrastruktur yang sangat baik untuk kemajuan industri pembiayaan,” kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno dalam webinar Asset Recovery Strategy During Pandemi yang digelar Infobank, Senin, 26 Juli 2021.

Kesulitan pendanaan dari perbankan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri multifinance di masa pandemi ini. Perbankan didorong untuk kembali memberi kepercayaan kepada industri multifinance. Pelaku industri juga terus melakukan pembenahan agar tata kelola menjadi lebih baik. Di sisi lain, multifinance juga harus berupaya mencari alternatif pendanaan, selain dari perbankan.

Kinerja industri multifinance memang masih mengalami tekanan. Per Mei 2020, Otoritas Jasa Keuangan mencatat, piutang pembiayaan masih tumbuh minus 13,69% year on year (yoy) menjadi Rp362,71 triliun. Kualitas aset mengalami perbaikan, di mana NPF terjaga di level 4,05%. Posisi NPF sempat melonjak hingga di atas 5% pada Juni dan Juli 2020. Sedangkan asetnya terkoreksi 13,89% menjadi Rp436,69 triliun.

Sisi baiknya, kinerja laba mengalami pertumbuhan solid.Total laba yang diraih industri pembiayaan mencapai Rp5,18 triliun, terbang 94,74% ketimbang Rp2,66 triliun periode sama tahun sebelumnya.

Pemberlakukan PPKM Darurat juga diakui Suwandi berpotensi kembali meningkatkan permintaan restrukturisasi. Per 19 Juli 2021, terdapat 5,76 juta permohonan restrukrisasi yang masuk ke perusahaan pembiayaan. SEbanyak 5,14 juta kontrak di antaranya disetujui untuk restrukturisasi. Total outstanding pokoknya mencapai Rp164,95 triliun, dengan bunga sebesar Rp44,91 triliun.

“Di tengah pandemi, perusahaan pembiayaan tetap menunjukkan itikad baik. Dari 23 juta kontrak di industri multifinance, sekitar 5,76 juta mengajukan permohonan restrukturisasi. Dan 5,14 juta di antaranya disetujui,” jelas Suwandi. (*) Ari Astriawan

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

8 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

9 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

9 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

10 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

11 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

12 hours ago