Keuangan

APPI Beberkan Dampak Kekerasan Debt Collector dan Jual Beli STNK Only

Poin Penting

  • Maraknya penagihan intimidatif berdampak pada kebijakan perusahaan pembiayaan, yang kini memperketat prinsip kehati-hatian
  • Praktik menyimpang seperti jual-beli kendaraan STNK only dan meningkatnya kredit bermasalah membuat porsi pembiayaan otomotif anjlok dari 67 persen menjadi 49 persen
  • DP rendah, tenor panjang, serta kegagalan bayar yang dibekingi oknum LSM meningkatkan risiko industri, mendorong perusahaan pembiayaan untuk mencari model bisnis baru.

Jakarta – Praktik kekerasan debt collector dalam proses penarikan kendaraan bermotor akibat kredit macet kian meresahkan. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menilai fenomena tersebut berdampak langsung terhadap sikap dan kebijakan yang harus diambil perusahaan pembiayaan (PP) agar praktik kekerasan terhadap debt collector tidak semakin masif.

Menurut Suwandi, saat ini perusahaan pembiayaan mengambil langkah dengan memperketat prinsip kehati-hatian dalam pemberian persetujuan kredit. Bahkan, tingkat persetujuan kredit kini hanya sekitar 40 persen dari total pengajuan yang masuk.

Baca juga: Debt Collector dan Bahaya Jual Beli STNK Only: Menteri Kominfo Didorong Larang Iklan Kendaraan Ilegal di Media Sosial

“Hari ini sih masih tetap akses kehati-hatiannya luar biasa, kenapa? dulu dari 10 aplikasi, delapan yang kita setujuin, sekarang hanya empat, 40 persen yang kita setujuin,” ucap Suwandi dalam acara InfobankTalksNews bertajuk “Mengurai Akar Kekerasan Debt Collector dan Bisnis Gelap STNK Only” yang digelar Infobank Digital, secara daring, Kamis, 5 Februari 2026.

Tak hanya itu, lanjut Suwandi, maraknya praktik-praktik nakal di sektor pembiayaan juga berdampak pada penurunan total portofolio perusahaan pembiayaan yang terkait dengan otomotif. Porsinya kini menyusut menjadi 49 persen dari sebelumnya 67 persen.

“Kalau secara total portfolio di kendaraan pembiayaan yang namanya multiguna berhubungan dengan otomotif tinggal 49 persen dari 67 persen semakin surut. Semakin rendah karena ini disebabkan jual-beli kendaraan, STNK only di seluruh Indonesia sudah jutaan, bukan hitungan yang sedikit,” imbuhnya.

Lebih jauh, Suwandi merinci bahwa praktik-praktik menyimpang tersebut juga dipicu oleh tingginya kegagalan bayar kredit yang kerap dilindungi oleh oknum-oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kondisi ini membuat proses edukasi dan literasi kepada masyarakat menjadi tidak terkendali.

Baca juga: Debt Collector Punya Peran Krusial Jaga Stabilitas Industri Keuangan

“Dengan gangguan di atas semakin masif tenor pinjaman kredit kendaraan yang begitu ringan dan tambahan kondisinya antara lain dengan DP (Down Payment) ceper (rendah), tenor yang panjang menjadi risiko yang sangat tinggi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, Suwandi mengimbau para pelaku bisnis perusahaan pembiayaan untuk mulai mengubah atau mencari model bisnis baru. Jika tetap bertahan di segmen pembiayaan tersebut, perusahaan harus siap menghadapi berbagai risiko yang menyertainya. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

OJK Wanti-wanti “Ormas Galbay” dan Jual Beli STNK Only Tekan Industri Pembiayaan

Poin Penting OJK menegaskan peran penagihan penting menjaga stabilitas industri pembiayaan, namun wajib diatur rinci,… Read More

1 min ago

Sidak Industri Baja, Purbaya Kejar Potensi Tunggakan Pajak Rp500 Miliar

Poin Penting Menkeu Purbaya sidak dua perusahaan baja di Tangerang yang diduga menghindari pembayaran PPN… Read More

3 mins ago

Bank Mandiri Catat Pembiayaan Berkelanjutan Rp316 Triliun Sepanjang 2025

Poin Penting Pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri mencapai Rp316 triliun pada 2025, tumbuh 8% yoy, terdiri… Read More

57 mins ago

Pembiayaan Multifinance 2025 Lesu, OJK Ungkap Biang Keroknya

Poin Penting Aset industri pembiayaan 2025 terkontraksi 0,01 persen, dengan pertumbuhan piutang hanya 0,61 persen,… Read More

1 hour ago

Dilantik jadi Wamenkeu, Juda Agung Ungkap Arahan Prabowo

Poin Penting Juda Agung resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan, menggantikan Thomas Djiwandono yang menjadi… Read More

1 hour ago

Bank Mandiri Targetkan Kredit 2026 Tetap di Atas Rata-Rata Industri

Poin Penting Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 2026 di atas rata-rata industri, sejalan dengan proyeksi… Read More

2 hours ago