Moneter dan Fiskal

APBN 2023 Defisit di Bawah Target, Begini Tanggapan Ekonom

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat defisit sebesar Rp347,6 triliun pada 2023.

Defisit tersebut setara dengan 1,65 persen dari produk domestik bruto (PDB), cenderung lebih rendah dari APBN 2023 dan Perpres 75/2023 yang awalnya ditargetkan masing-masing defisit sebesar 2,84 persen dan 2,27 persen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan bahwa defisit yang lebih rendah tersebut dipengaruhi oleh kinerja penerimaan pajak tahun 2023 yang tetap positif.

“Penerimaan pajak tumbuh 5,9 persen dari penerimaan pajak tahun 2022 dan kembali melampaui target APBN dan Perpres 75/2023, sekalipun di tengah kondisi normalisasi harga komoditas global,” ujar Josua saat dihubungi Infobanknews, Rabu 3 Desember 2023.

Baca juga: APBN 2023 Alami Defisit Rp347,6 Triliun, Lebih Kecil dari Desain Awal

Sementara itu, dari sisi belanja negara, belanja pemerintah pusat tercatat masih lebih rendah dari target APBN dan Perpres 75/2023 terutama belanja non-K/L yang juga dipengaruhi oleh belanja kompensasi selisih tarif listrik dan Harga Jual Eceran BBM tahun 2023.

“Meskipun realisasi belanja mendekati 100 persen, namun masih terkonsentrasi pada akhir tahun, yang semestinya bisa dioptimalkan untuk belanja pada kuartal I sampai dengan kuartal III, sehingga dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi,” ungkapnya.

Sebagai implikasi dari rendahnya defisit APBN tersebut, keseimbangan primer tercatat surplus untuk pertama kalinya sejak 2012, yakni sebesar Rp92,2 triliun. Ini mengindikasikan bahwa belanja pemerintah, selain pembayaran bunga cenderung menurun.

Josua menambahkan, hal tersebut merupakan indikasi awal bahwa debt sustainability tetap terjaga dalam level yang baik.

“Ke depannya, yang menjadi tugas pemerintah adalah bagaimana mempertahankan kinerja penerimaan perpajakan yang tetap baik sekalipun commodity boom berakhir dan ke depannya memprioritaskan belanja pemerintah yang produktif dalam rangka mendorong penciptaan lapangan kerja yang artinya mendukung produktivitas pertumbuhan ekonomi,” jelas Josua.

Baca juga: Sri Mulyani Sudah Salurkan Anggaran Perlinsos Rp443,3 T di 2023, Untuk Apa Saja?

Sementara itu, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat FEB Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky menyampaikan bahwa defisit yang jauh dari target tersebut merupakan capaian yang positif di tengah gejolak perekonomian global.

“Ini merupakan capaian yang cukup baik di tengah berbagai tekanan ekonomi global maupun domestik sepanjang tahun 2023,” imbuhnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

7 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

7 hours ago

CIMB Niaga Raih Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More

10 hours ago

Konsistensi Fundamental, Tugu Insurance Catat Laba Rp711 Miliar di 2025

Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More

13 hours ago

ICEx Resmi Meluncur, Bangun Infrastruktur Bursa Kripto RI Berstandar Global

Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More

18 hours ago

Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026

Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More

19 hours ago