Jakarta – Midlife crisis atau krisis paruh baya merupakan kondisi yang dialami seseorang ketika memasuki fase transisi menuju usia paruh baya. Pada fase ini, bisa memberikan pengaruh baik terhadap hidup masing-masing individu, jika teratasi dengan baik.
Sayangnya kondisi midlife crisis ini lebih cenderung menyebabkan seseorang yang mengalaminya merasa cemas, stress hingga depresi saat melalui proses penuaan.
Hingga kini, midlife crisis belum dapat didiagnosis sebagai gangguan psikologis dan sulit untuk diidentifikasi gejala maupun akar penyebab masalahnya.
Meski demikian, dengan banyaknya orang yang merasakan hal ini, setidaknya dapat dikatakan midlife crisis merupakan fenomena sosial yang nyata.
Baca juga: Libur Telah Tiba, Berikut Tips Belanja Hemat ke Luar Negeri Tak Bikin Kantong Jebol
Dilansir laman Manulife.co.id, Rabu (6/12), kondisi ini sering dihubungkan dengan kecenderungan memprioritaskan kesenangan dan melupakan tanggung jawab atau rencana keuangan jangka panjang yang telah dibangun sejak masa muda.
Oleh karena itu, masalah yang biasa diilustrasikan terjadi karena midlife crisis adalah pembelian mobil sport atau barang-barang mewah lain untuk merasa muda kembali atau demi bersaing dengan rekan-rekan seusia yang lebih sukses.
Meskipun midlife crisis dapat disebabkan oleh beberapa faktor, namun hal-hal seperti perubahan besar dalam kehidupan, kegelisahan karena membandingkan diri dengan orang lain di usia paruh baya, dan faktor biologis akibat penuaan itu sendiri adalah tiga faktor yang sering dikaitkan dengan kondisi ini.
Jika kelak hal ini terjadi pada Anda, ingatlah bahwa Anda masih bisa berusaha untuk mengubah keadaan tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Faktor utama terjadinya kondisi ini memang bisa berbeda-beda, namun tak ada salahnya jika kita mulai bersiap untuk menghadapi fase midlife crisis dan mencegahnya berkembang menjadi financial crisis di masa depan kelak.
Anda mungkin sudah menyisihkan tabungan yang cukup untuk masa depan dan ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan tanpa harus menguras habis semuanya.
Misalnya, dengan sesekali pergi berlibur, Anda dapat melupakan kegelisahan dan bahkan meningkatkan kepercayaan diri dengan membagikan cerita keseruan perjalanan Anda kepada orang lain.
Namun, tidak ada salahnya mencoba melakukan hal-hal tersebut agar midlife crisis tidak berujung pada masalah-masalah baru. Contohnya, seperti pengeluaran impulsif dan runtuhnya impian masa depan karena rencana jangka panjang yang terlupakan.
Baca juga: Simak! OJK Berikan 7 Tips Agar Terhindar dari Fintech Bodong
Fleksibilitas atas rencana keuangan memang diperlukan dan tidak masalah selama Anda bisa bertanggung jawab atas pengeluarannya dan tidak terlalu melenceng jauh dari perencanaan anggaran yang sudah Anda terapkan.
Pengeluaran yang dihabiskan diluar kebutuhan hidup atau kebutuhan utama, harus dilakukan tanpa perlu menguras rekening dan investasi kekayaan Anda.
Jika saat ini Anda masih dalam usia cukup muda, cobalah untuk mulai memperhitungkan hal-hal diluar kebutuhan utama seperti liburan atau hobi dalam rencana jangka panjang keuangan Anda. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More