Antrean IPO Turun Jelang Jokowi Pensiun, BEI Bilang Begini

Jakarta – Jumlah perusahaan antre penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tercatat turun. BEI mencatat, per 11 Oktober 2024 terdapat 27 perusahaan antre dalam pipeline IPO BEI terbaru.

Jumlah perusahaan tersebut berkurang 5 dari 32 perusahaan pada 27 September 2024 lalu.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna menyatakan pada periode tersebut, BEI juga telah menuliskan 36 perusahaan tercatat dengan perolehan dana yang diraih sebanyak Rp5,42 triliun.

“Sampai dengan 11 Oktober 2024 telah tercatat 36 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp5,42 triliun. Hingga saat ini, terdapat 27 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ucap Nyoman dalam keterangannya dikutip, 12 Oktober 2024.

Baca juga: Rp2,84 Triliun Modal Asing Keluar RI pada Pekan Kedua Oktober 2024

Lalu, dari sisi besaran aset, terdapat 13 perusahaan dengan aset skala besar, 12 perusahaan dengan aset skala menengah, dan sisanya dua perusahaan dengan aset skala kecil.

Sektor energi mendominasi

Kemudian, dengan adanya 27 perusahaan antre IPO di BEI, sektor energi mendominasi porsi antrean sebanyak 19,2 persen atau tercatat lima perusahaan.

Disusul oleh sektor bahan baku, sektor konsumer siklikal, sektor konsumer non-siklikal, sektor industrial, dan sektor industrial yang masing-masing terdapat tiga perusahaan atau mengisi porsi antrean IPO sebanyak 11,5 persen.

Baca juga: Jumlah Investor Saham RI Tembus 14 Juta, BEI Ungkap Strateginya

Pemicu turun

Adapun penurunan jumlah perusahaan yang antre IPO di BEI tersebut disebabkan oleh adanya pengetatan syarat dalam proses pencatatan saham di BEI dan telah memangkas 40 persen perusahaan yang bakal tercatat di BEI.

“Saat ini relatif sekitar 40 persen yang ditolak oleh bursa karena memang kita melakukan evaluasi secara saksama. Penolakan faktornya apa? Itu yang saya sampaikan, teman-teman dari sisi growing concern dan bisnis model,” ucap Nyoman dalam kesempatan terpisah.

Menurutnya, para perusahaan tersebut perlu melakukan kajian untuk menyusun langkah-langkah dalam mendukung pertumbuhan perusahaan terus berkelanjutan setelah melakukan aksi korporasi IPO. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

3 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

6 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

12 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

13 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

14 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

15 hours ago