News Update

Antisipasi Resesi, Pengelolaan Anggaran Pemerintah Harus Dibenahi

Jakarta – Ekonom senior Raden Pardede menyatakan pentingnya pengelolaan belanja dan pendapatan negara bagi Pemerintah untuk menghindari resesi ekonomi. Selain itu, Pemerintah juga harus memastikan mata pencaharian masyarakat tetap berjalan ditegah pandemi.

“Itu sebabnya kalau ditanya target jangka pendek apa, hindari resesi, tapi untuk hindari resesi ini apa, harus timbul dulu rasa aman dan sehat. Lalu, di saat yang sama adalah kita memastikan mata pencaharian kita tetap berjalan,” ujarnya, pada acara “Gerakan Pakai Masker (GPM) Webinar Series Satu: Ekonomi Indonesia di Ambang Resesi, Apa Solusinya? Menyelamatkan Nyawa, Menyelamatkan Ekonomi”, Senin, 3 Agustus 2020.

Menurutnya, menciptakan rasa aman dan sehat ini penting karena dapat memunculkan kembali kepercayaan di masyarakat, yang pada akhirnya akan memicu kembali kegiatan ekonomi.

“Kepercayaan itu belum muncul. Berdasarkan data kami, tabungan di perbankan naik, tapi kreditnya turun. Itu yang punya uang kaum kolonial ini spending timenya relatif turun. Jadi, ada menahan diri karena belum begitu yakin. Lalu, mereka juga lebih concern terhadap kesehatan daripada yang muda,” terangnya.

Maka dari itu, untuk menciptakan rasa aman dan sehat ini, ia menuturkan bahwa pemerintah harus melakukan perbaikan belanja dan pengelolaan anggaran cukup besar untuk menjamin keamanan dan kesehatan masyarakat sampai ke kelas bawah.

“Belanja pemerintah yang Rp695 triliun kita akan lihat beberapa minggu ini itu harus dibelanjakan, dan yang utama adalah untuk sosial, seperti kesehatan. Kemudian diikuti program padat karya tunai, membantu umkm, bantuan sosial, dan yang lainnya. Di samping itu, kita juga menyederhanakan Peraturan Pemerintah (PP) yang rumit. Jadi, ini adalah rencana jangka pendeknya,” tambahnya.

Dirinya pun mengakui bahwa tidak mudah menyalurkan bantuan untuk UMKM karena masalah data yang kurang akurat. Namun demikian, ia menjelaskan bahwa kali ini pemerintah telah menjalin kerja sama dengan banyak pihak untuk meminimalisir terjadinya salah sasaran pada pengiriman bantuan.

“Memang untuk bantu UMKM tidak mudah, jadi kita agak was-was. Tapi kita sudah lakukan terobosan, yakni bekerja sama dengan KPK, lalu kita juga menyalurkan uangnya itu melalui data-data dari bank, seperti bank BRI misalnya. Jadi kita sekarang memakai banyak data,” tambahnya.

Di samping itu, pemerintah pun, menurutnya, memiliki rencana untuk memberikan subsidi gaji terhadap pihak yang sudah di-PHK atau masih digaji, namun sangat rendah.

“Nah, ini kita sisir sekarang kerja sama dengan Kemenaker. Jadi, banyak yang dilakukan sekarang. Semoga teman-teman di Telkom, lembaga perbankan, dan Kemenaker dapat memberi masukan,” pungkasnya. (*) Steven

Editor: Rezkiana Np

Suheriadi

Recent Posts

Jelang Idul Fitri 1447 H, BSN Bagikan Ratusan Sembako

BSN bersinergi dengan Forum Wartawan BSN menggelar kegiatan sosial bertajuk “Ramadan Berkah, Sinergi BSN dan… Read More

1 hour ago

Bank Mandiri Taspen Turut Serta Lepas Mudik Bersama Keluarga Besar Kemenko Kumham Imipas

Program CSR mudik bersama ini diikuti oleh sekitar 400 peserta sebagai bentuk dukungan pemerintah dan… Read More

1 hour ago

BTN Beberkan Tiga Pilar Transformasi Layanan, Apa Saja?

Poin Penting PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk tengah mengakselerasi transformasi besar-besaran di lini operasionalnya… Read More

5 hours ago

Jangan Sampai Boncos, Perencana Keuangan Ungkap 3 Prinsip Utama Kelola THR

Poin Penting PT Bank Aladin Syariah Tbk bekerja sama dengan financial planner Ayu Sara Herlia… Read More

10 hours ago

Industri Asuransi Jiwa Sudah Bayar Klaim Korban Bencana Sumatra Rp2,6 Miliar

Poin Penting Industri asuransi jiwa telah menyalurkan klaim sekitar Rp2,6 miliar kepada korban bencana di… Read More

14 hours ago

Investasi Asuransi Jiwa Tembus Rp590,54 Triliun, Mayoritas Parkir di SBN

Poin Penting AAJI mencatat industri asuransi jiwa mencatat total investasi Rp590,54 triliun pada 2025, naik… Read More

14 hours ago