Salah satu lapangan lepas pantai di wilayah kerja Pertamina EP. Sepanjang tahun 2024, Pertamina EP berhasil mencatatkan produksi migas mencapai 205,18 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD).
Poin Penting
Jakarta – Pemerintah akan terus menggenjot produksi minyak nasional sebagai langkah antisipasi terhadap gejolak geopolitik global, termasuk situasi yang tengah terjadi di Venezuela.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia mengatakan, peningkatan produksi minyak dilakukan melalui sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Sebagai antisipasi, kami terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA, Selasa, 6 Januari 2026.
Ia menjelaskan, upaya peningkatan produksi dilakukan melalui optimalisasi pemanfaatan teknologi dan teknik produksi, seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), serta horizontal drilling.
Selain itu, sebut dia, pemerintah juga menawarkan reformasi fiskal, percepatan proses perizinan, serta peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier guna menarik minat investor hulu minyak dan gas bumi.
Baca juga: Trump Ngebet Garap Cadangan Emas Venezuela, Ternyata Segini Nilainya
Lebih lajut dikatakannya, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi minyak melalui reaktivasi sekitar 4.500 sumur minyak yang saat ini tidak aktif.
“Kondisi ini (situasi Venezuela) terus dipantau,” jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman menyatakan, pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi di Venezuela terhadap pasokan maupun harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” kata Laode usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1).
Laode menambahkan, pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi dan pemantauan perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia.
“Antisipasi itu selalu ada,” ujar dia.
Baca juga: Perusahaan Minyak AS Ketiban Untung usai Penangkapan Maduro dari Venezuela
Langkah antisipasi pemerintah Indonesia tersebut merespons gejolak politik yang terjadi di Venezuela. Media internasional melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer Ibu Kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1).
Dalam pernyataannnya, Presiden AS Donald Trump menyebutkan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Menyusul peristiwa tersebut, Pemerintah Venezuela mengumumkan negaranya berada dalam kondisi darurat nasional.
Sejumlah negara juga mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan unilateral AS tersebut. Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara, larangan penggunaan kekerasan, dan penyelesaian sengketa secara damai.
Sementara itu, Rusia dan Iran, yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Venezuela, turut mengecam serangan militer AS tersebut. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting RI dan Jepang menandatangani 10 MoU dengan nilai total USD23,1 miliar (Rp392,7 triliun).… Read More
Poin Penting BRI mengimbau masyarakat lebih berhati-hati terhadap maraknya penipuan digital, khususnya melalui link palsu… Read More
Poin Penting Praktik mis-selling PAYDI/Unit Link masih menjadi penyumbang terbesar keluhan konsumen di industri asuransi… Read More
Poin Penting Bank Jatim mencetak laba bersih Rp1,61 triliun pada 2025, naik 24,80 persen yoy,… Read More
Poin Penting IHSG berbalik melemah atau ditutup turun 0,53 persen ke level 7.053,77 pada sesi… Read More
Poin Penting Pengguna BYOND by BSI tumbuh 197 persen yoy sejak diluncurkan, mendorong total pengguna… Read More