News Update

Anindya Bakrie Tegaskan Pertumbuhan Hijau Jadi Motor Investasi dan Transisi Energi

Poin Penting

  • Pertumbuhan hijau dinilai Anindya Bakrie sebagai bagian inti strategi pertumbuhan nasional, mencakup ekonomi, transisi energi, dan geopolitik global.
  • Elektrifikasi dan hilirisasi mineral menjadi penggerak utama, dengan peluang besar dari kendaraan listrik serta komoditas nikel, kobalt, tembaga, dan bauksit.
  • Transisi energi krusial untuk mendukung AI dan pusat data, dengan kebutuhan ratusan gigawatt listrik berbasis energi terbarukan menuju target net zero.

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa pertumbuhan hijau bukan agenda yang berdiri sendiri, melainkan bagian tak terpisahkan dari strategi besar pertumbuhan nasional Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Anindya—yang akrab disapa Anin—dalam sesi panel Indonesia Economic Summit (IES) Thought Leadership bertajuk “How Can Indonesia Leverage The Green Sectors to Boost Growth” di Hotel Shangri-La Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Anin, pertumbuhan hijau harus dipahami sebagai satu kesatuan yang mencakup pertumbuhan ekonomi, transisi energi, serta dinamika geopolitik global. Pendekatan ini dinilai penting agar Indonesia mampu mengambil peran strategis dalam perubahan lanskap ekonomi dunia.

“Pertumbuhan hijau pada dasarnya bukan sesuatu yang berjalan paralel, tetapi merupakan bagian dari cerita pertumbuhan nasional, ” ujar Anin.

Baca juga: Kunjungi Menko Airlangga, Anindya Bakrie Dapat Wejangan Khusus, Apa Itu?

Anin menjelaskan, terdapat tiga dimensi utama dalam pertumbuhan hijau. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang mendorong investasi, perdagangan, industrialisasi, serta penciptaan lapangan kerja.

Kedua, pertumbuhan hijau berkaitan erat dengan agenda transisi energi. Ketiga, pertumbuhan hijau memiliki dimensi geopolitik yang semakin kuat dalam perekonomian global.

Elektrifikasi dan Hilirisasi Jadi Penggerak Utama

Dalam konteks ekonomi, Anin menilai Indonesia perlu menentukan posisi strategis dalam rantai pasok dan ekosistem global. Ia menyebut dua sektor utama yang berpotensi besar mendorong pertumbuhan hijau nasional, yakni elektrifikasi dan hilirisasi mineral..

Lebih lanjut, Anin menyebut elektrifikasi menyumbang sekitar 40 persen peluang dalam cerita pertumbuhan hijau. Saat ini, sekitar 1,5 persen mobil baru yang dijual di Indonesia merupakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Baca juga: Insentif Mobil Listrik Berakhir, OJK: Pembiayaan Tetap Moncer di 2026

Meski tertinggal dibandingkan China dengan penetrasi sekitar 90 persen atau Eropa sekitar 60 persen, tren ini dinilai membuka peluang terbentuknya industri dan ekosistem baru di dalam negeri.

“Ini menciptakan rangkaian industri dan ekosistem yang sama sekali baru. Banyak pelaku usaha, khususnya dari China, yang sudah membangun fasilitas produksinya di Indonesia,” kata Anin.

Potensi Besar Hilirisasi Mineral Kritis

Selain elektrifikasi, hilirisasi mineral kritis juga menjadi fokus utama. Anin menekankan bahwa Indonesia tidak hanya produsen nikel dengan kontribusi sekitar 60 persen produksi global, tetapi juga memiliki potensi besar pada kobalt, tembaga, dan bauksit.

“Sekitar 10 persen produksi global komoditas tersebut berasal dari Indonesia, dengan aktivitas yang banyak berlangsung di kawasan Indonesia bagian timur, sehingga berpotensi mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Anin.

Lebih lanjut, Anin menilai pertumbuhan hijau juga erat kaitannya dengan transisi energi, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.

“Dalam 25 hingga 35 tahun ke depan menuju target net zero, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 100 gigawatt listrik hanya untuk mendukung operasional pusat data” terang Anin.

Baca juga: Dorong Ekonomi Nasional, OJK Terus Optimalkan Kinerja Intermediasi Sektor Jasa Keuangan

Dalam konteks tersebut, Anin menyampaikan dukungan terhadap langkah PT PLN (Persero) yang tengah mengembangkan kapasitas pembangkit listrik hingga 75 gigawatt, dengan sekitar 75 persen di antaranya bersumber dari energi terbarukan.

“Untuk mendukung hilirisasi mineral kritis, Indonesia diperkirakan membutuhkan sekitar 500 gigawatt energi surya dalam 25 hingga 35 tahun ke depan. Dengan cadangan silika dan sumber daya alam yang dimiliki, peluang ini sangat besar bagi Indonesia,” jelas Anin.

Dari sisi geopolitik, Anin menegaskan bahwa isu pertumbuhan hijau dan transisi energi kini menjadi arena persaingan strategis global. Dalam berbagai forum internasional seperti Davos, APEC, dan G20, terlihat bahwa isu transisi energi semakin dominan dibahas oleh negara-negara besar.

Saat ini, China dinilai lebih aktif dibandingkan Amerika Serikat dalam mendorong agenda tersebut.

“Indonesia harus sangat cermat dalam memainkan perannya, sambil tetap membuka ruang kerja sama, termasuk dengan negara-negara Timur Tengah yang dapat mendukung dari sisi pendanaan, ”pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Pertamina Bentuk Sub Holding Downstream, Dinilai Perkuat Optimalisasi Operasional Hilir

Poin Penting Pertamina resmi membentuk Sub Holding Downstream (SHD) untuk mengintegrasikan Patra Niaga, Kilang Pertamina… Read More

57 mins ago

Gelar Run for Disabilities, BTN Perkuat Komitmen ESG Lewat Inklusivitas

Poin Penting BTN menggelar Run for Disabilities sebagai bagian Road to BTN Jakim 2026, menegaskan… Read More

4 hours ago

BTN Gelar Run for Disabilities, Perkuat Komitmen ESG dan Inklusivitas

Poin Penting BTN menegaskan komitmen ESG dan inklusivitas melalui BTN Run for Disabilities dengan melibatkan… Read More

4 hours ago

Gelar Green Golf Tournament 2026, Infobank Dorong Program Sosial dan Lingkungan Bersama Industri Keuangan

Poin Penting Infobank bersama IBI, AAUI, dan APPI menggelar 8th Green Golf Tournament 2026 yang… Read More

9 hours ago

Perubahan Iklim Sudah Terasa, Muliaman Hadad Serukan Industri Konsisten Jaga Lingkungan

Poin Penting Green Golf Tournament 2026 menegaskan komitmen Infobank dan industri jasa keuangan untuk berperan… Read More

11 hours ago

Strategi Victoria Square Perkuat Ekosistem Bisnis dan Budaya

Poin Penting Kolaborasi budaya–bisnis: Ajang Meet and Greet Miss Japan 2026 jadi momentum networking Indonesia–Jepang,… Read More

11 hours ago