Poin Penting
Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendesak pemerintah mengevaluasi skema pengabdian bagi penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ia menilai pemerintah perlu mengutamakan penyediaan ekosistem riset yang memadai di dalam negeri, bukan sekadar menuntut kepulangan fisik alumni secara kaku.
Pernyataan tersebut disampaikan Fikri merespons polemik diaspora yang enggan kembali ke Indonesia karena dinilai minimnya fasilitas pendukung keahlian dan riset di dalam negeri.
Baca juga: Empat Alumni LPDP Kena Sanksi Kembalikan Dana Beasiswa Rp2 Miliar
Menurut Fikri, nasionalisme tidak semestinya diukur hanya dari domisili, melainkan dari kontribusi nyata dan jejaring ilmu pengetahuan yang dibangun untuk bangsa.
“Jangan sampai kita hanya menuntut mereka pulang, tapi di sini mereka justru ‘mati’ secara keilmuan karena laboratorium tidak ada dan ekosistem risetnya tidak mendukung. Kita harus menyediakan ‘rumah’ yang layak bagi mereka untuk berkarya,” ujar Fikri dalam keterangannya kepada Parlementaria di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Politikus Fraksi PKS itu mencontohkan kisah B. J. Habibie yang bersedia kembali ke Tanah Air karena negara menyediakan panggung melalui pengembangan industri strategis.
Fikri menilai, tanpa sarana dan prasarana yang memadai, talenta terbaik Indonesia di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) berpotensi terus terserap industri luar negeri yang lebih menghargai keahlian mereka.
Baca juga: LPDP Masih Hitung Nilai Pengembalian Dana Beasiswa AP
Ia juga mengusulkan pergeseran paradigma dari konsep brain drain atau kehilangan talenta menjadi brain circulation. Dalam konsep tersebut, diaspora yang tetap berada di luar negeri tetap dapat dianggap mengabdi sepanjang mereka menjadi jembatan teknologi dan riset bagi institusi di Indonesia.
Fikri menambahkan, pemerintah perlu memperbaiki koordinasi antar-kementerian agar lulusan terbaik tidak terkendala birokrasi ketika ingin berkontribusi bagi Tanah Air.
“Jangan biarkan mutiara-mutiara kita hanya bersinar di negeri orang karena kita gagal menyiapkan tempat bagi mereka di rumah sendiri,” ujar doktor ilmu lingkungan dari Universitas Diponegoro itu. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Setelah akuisisi Mandala Finance, Adira Finance integrasikan 6.000 karyawan baru, total karyawan mencapai… Read More
Poin Penting PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) agresif monetisasi aset properti dengan menjalin kerja… Read More
Poin Penting Eskalasi konflik Iran-AS memicu penundaan IPO, penggalangan dana, dan transaksi M&A lintas negara… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggeledah kantor PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia terkait dugaan… Read More
Poin Penting Fitch menurunkan outlook utang Indonesia menjadi negatif, rating tetap BBB. Risiko fiskal meningkat… Read More
Poin Penting OJK mencatat 13.130 laporan penipuan dalam 10 hari pertama Ramadan 2026, melibatkan 22.593… Read More