Poin Penting
Jakarta – Akselerasi digitalisasi memaksa industri perbankan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan siber. Serangan terhadap sistem perbankan tidak hanya menimbulkan kerugian finansial bagi bank terdampak, tetapi juga berisiko mencoreng reputasi industri secara keseluruhan.
Namun di tengah meningkatnya ancaman tersebut, ketersediaan talenta digital di dalam negeri dinilai masih terbatas.
Zentara, perusahaan penyedia layanan keamanan siber lokal, menilai Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan sumber daya manusia di bidang keamanan siber, termasuk untuk sektor perbankan.
“Indonesia masih sulit mencari talenta digital, seperti analis atau engineer. Ada kekurangan talenta digital. Mungkin karena secara luas dan historis, Indonesia bukan negara yang lekat dengan teknologi seperti India atau Tiongkok,” kata Regal Star, CEO Zentara, kepada Infobanknews, pada Kamis, 12 Februari 2026.
Baca juga: Serangan Siber Intai Multifinance, OJK Minta Lakukan Hal Ini
Regal menilai, dibandingkan sekadar berinvestasi pada teknologi, industri perbankan seharusnya lebih dulu fokus membangun dan mengembangkan kapasitas talenta digital. Menurutnya, penguatan kompetensi SDM akan menjadi fondasi utama dalam memperkuat sistem keamanan di ekosistem digital.
“Jadi, saya berpikir, daripada teknologinya, bank-bank seharusnya fokus dulu untuk mengembangkan pengetahuan bagi talenta digital. Karena setelahnya, mereka bisa memanfaatkan teknologi ini untuk membuat solusi dan bekerja sama mencegah serangan,” imbuhnya.
Sebagai bagian dari kontribusi terhadap pengembangan SDM, Zentara juga aktif meningkatkan kapabilitas calon talenta digital.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan edukasi gratis bagi bibit unggul yang ingin memperoleh sertifikasi, serta penyelenggaraan webinar yang terbuka untuk publik.
Dari sisi pemanfaatan teknologi, Regal melihat adanya perubahan pendekatan di kalangan perbankan. Kini, bank dinilai semakin selektif dalam memilih mitra keamanan siber dan lebih mengutamakan kapabilitas dibandingkan sekadar nama besar perusahaan.
“Berkaca kepada serangan-serangan di masa lalu, kalau dulu perusahaan (bank) yang punya budget memilih jasa perusahaan ternama, sekarang memilih jasa dari perusahaan yang hasil layanannya bisa dipercaya,” ujar Regal.
Baca juga: Memperkuat Ketahanan Siber di Era Digital
Ia menambahkan, pada masa lalu sejumlah bank cenderung membeli produk mahal dan termutakhir sebagai “gimmick” perlindungan siber. Namun saat ini, orientasi telah bergeser ke kualitas layanan dan efektivitas solusi, meski berasal dari perusahaan yang tidak memiliki nama besar.
Ke depan, Regal memandang persaingan antarbank dalam menjaga keamanan siber akan semakin ketat. Kompetisi tersebut diyakini akan mendorong lahirnya inovasi yang pada akhirnya memperkuat industri perbankan.
“Kompetisi akan melahirkan inovasi. Misalnya ada bank yang datanya bocor. Artinya, bank itu akan kalah berkompetisi dengan bank lain. Tapi ,dari sana, akan muncul hal-hal baru supaya mereka bisa kembali berkompetisi dengan bank lain,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Pangsa pasar oli Indonesia tumbuh rata-rata 2,5% per tahun, didorong oleh meningkatnya jumlah… Read More
Poin Penting Konflik AS-Iran memunculkan volatilitas, yang sebagian investor lihat sebagai momentum untuk membeli aset… Read More
Poin Penting SMF menyalurkan pembiayaan Rp20,88 triliun sepanjang 2025, naik 22,75%, dengan laba Rp565 miliar… Read More
Poin Penting Adira Finance catat pembiayaan baru Rp43,2 triliun, naik 18% di 2025. Laba bersih… Read More
Poin Penting AFPI berharap bank Himbara menyalurkan sebagian dari Rp200 triliun SAL ke industri pinjaman… Read More
Poin Penting Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi… Read More