Semester I 21015, Laba Sejumlah Bank Tergerus

Semester I 21015, Laba Sejumlah Bank Tergerus

Sejumlah bank labanya terkikis. Namun ada juga yang mampu mencetak pertumbuhan laba. Apriyani Kurniasih.

Jakarta–Perlambatan ekonomi telah mempengaruhi kinerja sektor perbankan. Menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya risiko bisnis membuat ruang penyaluran kredit perbankan terus menyempit. Meningkatnya risiko memaksa bank untuk menaikkan kewaspadaan yang kemudian berimbas pada kenaikan suku bunga kredit. Hasilnya, pelaku usaha menjerit dan tak jarang berujung pada kredit macet.

Sangat sulit bagi bank jika bergantung pada pendapatan bunga, sebab margin makin tipis. Akibatnya, laba pun ikut tergerus. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba tahun berjalan bank umum hingga April 2015 tercatat mengalami penurunan sebesar 0,66% menjadi Rp36,58 triliun dari Rp37,9 triliun pada April 2014.

Sejumlah bank besar berkontribusi terhadap penurunan tersebut. PT. Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya, pertumbuhan labanya secara year on year tercatat minus 50,8%. Laba BNI turun dari Rp4,94 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp2,43 triliun pada Juni 2015.

Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni menjelaskan, penurunan laba bersih diakibatkan oleh adanya kenaikan NPL sehingga BNI mencadangkan lebih banyak dana. “Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan NPL,” tutur Baiquni.

Hingga semester I 2014, NPL atau rasio kredit bermasalah BNI mengalami kenaikan dari 2,2% menjadi 3%. Jumlah kredit bermasalah BNI mengalami kenaikan sebesar 51,52% dari Rp5,36 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp8,11 triliun pada Juni 2015. Sementara itu, sampai dengan Juni 2015, BNI telah melakukan hapus buku (write off) sebesar Rp1,27 triliun, atau turun sebesar 30,03% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,82 triliun.

Selain BNI ada dua bank lainnya yang juga sudah buka-bukaan menyampaikan kinerjanya. Mereka pun ikut merasakan dampak dari perlambatan ekonomi terhadap performa keuangannya tahun ini. Penurunan pertumbuhan laba yang dialami BNI juga dialami oleh PT. Bank Danamon Tbk, (Bank Danamon). Laba Bank Danamon pada Semester I tahun ini pertumbuhannya menurun sebesar 16% jika dibandingkan semester I tahun lalu dari Rp1,49 triliun menjadi Rp1,25 triliun.

Direktur Bank Danamon, Vera Eve Liem mengatakan, penurunan laba turut dikontribusikan oleh perlambatan yang terjadi pada industri otomotif yang berdampak kepada pembiayaan kredit. Kendati demikian, Vera masih optimis kondisinya akan lebih baik pada semester II 2015. Selanjutnya,b Bank Danamon akan fokus di sektor-sektor diluar sektor otomotif yang masik prospektif, seperti UKM, komersil, syariah dan retail. “Segmen-segmen tersebut akan kembali mendongkrak penyaluran kredit di 2015” terang Vera.

Pada semester II tahun ini, Danamon akan menerapkan strategi-strategi khusus, seperti memperbaiki dan meningkatkan sistem marketing, serta meningkatkan kredit di segmen UKM, komersil, syariah dan retail.

Situasi ekonomi yang diliputi ketidakpastian ini memang menyulitkan semua orang. Tak heran banyak pelaku usaha lebih memilih menahan diri daripada mengambil risiko. Hal itu membuat optimisme dunia usaha di Indonesia ikut menipis. Kondisi ini berimbas pada bisnis perbankan.

Kendati dihadapkan pada situasi yang menantang, sejumlah bank masih suskes menorehkan pertumbuhan laba. PT. Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri) labanyak tumbuh sebesar 3,5% menjadi Rp9,9 triliun pada semester I 2015. Pertumbuhan laba mengalami perlambatan karena terjadi risiko pemburukan kualitas kredit. Budi G. sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri mengatakan, Bank Mandiri mengalihkan profitnya untuk pencadangan. “Kita konsentrasikan untuk berjaga-jaga dari sisi pemburukan kredit,” imbuh Budi.

Selain Bank Mandiri , PT. Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Tabungan Negara (BTN) pencapaian labanya masih biru. BCA membukukan pertumbuhan laba sebesar 8,8%. Sementara BTN labanya melonjak 54,25%.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengatakan, perlambatan ekonomi memang memberi dampak bagi sektor perbankan. Untuk menghadapi hal tersebut, kuncinya di BCA adalah fokus dalam upaya menjaga likuiditas, kualitas kredit dan permodalan.

Jahja mengakui, ada peningkatan biaya yang terjadi saat ini, antara lain diakibatkan oleh pelemahan nilai tukar dan peningkatan biaya tenaga kerja. “Hal itu dapat diimbangi dengan terjaganya margin bunga bersih” imbuh Jahja.

Hingga Juni 2015, laba BCA tercatat mencapai Rp8,54 triliun, naik dibandingkan posisi yang sama tahun lalu yang sebesar Rp7,85 triliun. Rasio Net Interest Margin mengalami peningkatan dari 6,5% pada Juni 2014 menjadi 6,6% di Juni 2015.

Leave a Reply

Your email address will not be published.