Jakarta–Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang melemah pada penutupan akhir pekan lalu, diperkirakan berpeluang kembali untuk menguat sejalan dengan sentimen perlambatan ekonomi AS yang muncul.
Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta mengatakan, kondisi dollar index yang enggan menguat ini menyusul usai pelantikan Trump yang sempat mengeluarkan pernyataan terkait kebijakannya yang proteksionisme.
“Selain itu, revisi data pertumbuhan AS kuartal IV-2016 yang anjlok ke level terendah semenjak 2011 juga menjadi penyebab utama,” ujar Rangga dalam risetnya, di Jakarta, Senin, 30 Januari 2017.
Kendati demikian, kata dia, penguatan rupiah bisa tertahan merespon Indeks Harga Konsumen (IHK) di Januari 2017 yang diperkirakan akan mengalami kenaikan. Akan tetapi, kenaikan inflasi di Januari 2017 diprediksi hanya terbatas.
“Naiknya inflasi diperkirakan terbatas dan belum memicu kenaikan BI 7-day Reverse Repo Rate, apalagi Bank Indonesia memandang Fed Fund Rate target baru akan naik pada pertengahan 2017,” ucapnya.
Di sisi lain, pelaku pasar domestik saat ini juga tengah fokus pada pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2016 yang akan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Minggu pertama bulan Februari 2017. Hal ini tentu akan memberikan sentimen pada laju rupiah. (*)
Poin Penting IHSG menguat tipis 0,16% pada sesi I perdagangan Kamis (15/1) ke level 9.046,83… Read More
Poin Penting Bank Mandiri memprediksi konsumsi masyarakat mulai pulih pada 2026, didorong stimulus pemerintah serta… Read More
Poin Penting OJK memantau hasil audit laporan keuangan 2025 UUS multifinance yang telah memenuhi kriteria… Read More
Poin Penting BRI membagikan dividen interim Rp20,6 triliun atau setara Rp137 per saham untuk Tahun… Read More
Oleh Tim Infobank KASUS yang menjerat Yuddy Renaldi, Direktur Utama (Dirut) Bank BJB di Pengadilan… Read More
Poin Penting OJK terbitkan POJK 33/2025 untuk menyempurnakan kerangka penilaian tingkat kesehatan sektor perasuransian, penjaminan,… Read More