Poin Penting
Jakarta – Generasi milenial dan Gen Z mempunyai cara pandangan berbeda dari generasi sebelumnya terkait kesejahteraan finansial. Kedua generasi ini seakan mendefinisikan ulang arti kesuksesan keuangan.
Kar Yong Ang, Elev8 Analyst, mengungkapkan, generasi milenial (29-44 tahun) dan Gen Z (13-28 tahun) tidak hanya beradaptasi dengan lanskap keuangan yang berubah. Tapi mereka juga secara aktif membentuk kembali arti dari mengelola uang dengan baik.
Mengutip laporan ‘Generasi Milenial & Gen Z Indonesia 2026’ dari IDN Research Institute, kedua generasi itu memang tidak lagi terikat dengan indikator kesuksesan finansial tradisional, seperti kepemilikan rumah dan rekening tabungan tetap, tapi cenderung mengarah ke pencapaian yang lebih personal sesuai value yang mereka yakini.
Pergeseran cara pandang ini terefleksi juga dari data yang menyebut hanya 29 persen orang Indonesia berusia 25 hingga 34 tahun saat ini yang memiliki rumah. Kondisi ini disebabkan tingginya uang muka (DP), kenaikan gaji yang stagnan, dan perubahan prioritas keuangan yang disengaja.
Baca juga: AXA Mandiri Ajak Anak Belajar Finansial Lewat Kegiatan Interaktif
Di periode 2019-2024, hampir 10 juta orang Indonesia keluar dari kelompok kelas menengah. Generasi muda Indonesia merespons kondisi itu dengan melakukan penyesuaian kembali apa sebenarnya makna kesejahteraan finansial.
“Satu hal yang pasti, tren ini sama sekali tidak eksklusif untuk Indonesia—justru merupakan cerminan dari pergeseran global yang lebih luas,” ujar Kar Yong Ang, dalam keterangan resmi, dikutip Jum’at, 27 Maret 2026.
Salah satu poin penting dalam laporan itu adalah data yang menyebut hanya 23 persen Gen Z Indonesia yang memiliki dana darurat 3 bulan. Sedangkan generasi milenial lebih banyak, yakni 69 persen.
Data ini mengindikasikan strategi yang berbeda bagi kedua generasi dalam mengelola atau menghadapi risiko ketidakpastian. Jika milenial menekankan keamanan dan tanggung jawab komunal serta cenderung membangun bantalan keuangan tradisional, Gen Z bereksperimen dengan apa yang disebut para peneliti sebagai ‘tabungan lunak’, yakni memadukan tujuan pengeluaran emosional dan pengalaman dengan kebiasaan finansial yang didukung teknologi.
Sebagian anak muda Indonesia melihat, menabung bukan sekadar membangun jaring pengaman, tapi juga cara mendapatkan kontrol di tengah kondisi yang tidak terduga.
“Laporan tersebut mengidentifikasi prioritas tabungan utama di antara kelompok ini sebagai perawatan diri, baik untuk terapi, perawatan kulit, atau liburan, dan pengalaman bersama seperti konser dan acara penggemar,” lanjutnya.
Baca juga: Lewat Jurus Ini, AIG Indonesia dan PJI Perkuat Keterampilan Finansial di Sekolah
Sebenarnya ini bukanlah pilihan sembrono. Tapi menjaga keseimbangan emosional. Dalam konteks di mana 49 persen Gen Z perkotaan mengatakan mereka sengaja mengurangi pengeluaran, bukan hanya untuk menabung, tetapi untuk “membersihkan mental”.
Perusahaan keuangan menyadari kondisi tersebut dan mengakomodir kebutuhan atau perilaku generasi muda. Elev8, broker global yang menyediakan layanan trading online, misalnya mengatakan bahwa ekosistem trading-nya berfokus mengurangi beban mental dan membuat beban psikologis manajemen kekayaan tidak terlalu melelahkan. (*) Ari Astriawan
Poin Penting Menurut riset HID 73 persen perusahaan global kini memprioritaskan manajemen identitas seiring meningkatnya… Read More
Jakarta - Persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang terkait kasus kredit macet PT… Read More
Poin Penting Hingga Februari 2026, Bank Kalbar mencetak laba Rp98,71 miliar, naik 14,81 persen (yoy),… Read More
Poin Penting OJK menghormati putusan KPPU yang menjatuhkan sanksi kepada 97 pindar atas pelanggaran persaingan… Read More
Poin Penting Kinerja melonjak signifikan, pendapatan HRTA naik 144,39% menjadi Rp44,55 triliun dan laba bersih… Read More
Poin Penting SAL dinilai penting sebagai bantalan APBN untuk mengantisipasi pelebaran defisit akibat lonjakan subsidi… Read More