Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambles 5,60 persen ke level 7.160,59 pada awal perdagangan hari ini, Senin (9/3). Penurunan tajam terjadi sesaat setelah sesi I dibuka pada pukul 09.12 WIB.
IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah di 7.156,68. Namun tekanan jual mulai mereda menjelang akhir sesi I. Pada pukul 11.25 WIB, pelemahan IHSG tercatat menyusut menjadi sekitar 3,33 persen ke posisi 7.333,43.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai pelemahan IHSG dipicu oleh tiga sentimen utama yang menekan psikologi pasar.
Pertama, meningkatnya tensi geopolitik global yang memicu sentimen risk-off di pasar keuangan. Kondisi ini membuat aliran dana asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga: Harga Minyak Tembus USD100, Bursa Saham Asia Rontok Akibat Konflik Timur Tengah
“Kedua, kekhawatiran pasar terhadap penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI, bahkan muncul spekulasi potensi perubahan status dari emerging market ke frontier market, yang dapat memicu penyesuaian portofolio investor global,” ucap Reydi dikutip, 9 Maret 2026.
Sentimen ketiga, lanjut Reydi, berkaitan dengan meningkatnya perhatian investor terhadap risiko kredit Indonesia. Hal ini menyusul sinyal kehati-hatian dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional terhadap outlook ekonomi.
“Mungkin imbasnya akan berlanjut hingga libur panjang Idulfitri, pasar domestik rasanya akan mengamankan asetnya sebelum hari libur,” imbuhnya.
Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai tekanan terhadap pasar saham domestik juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS. Selain itu, investor juga mencermati outlook dari Fitch Ratings yang mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati.
Baca juga: Sebagian Saham Bank di Indeks INFOBANK15 Masih Menguat Meski IHSG Melemah
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi tekanan fiskal. Harga energi yang meningkat berpotensi menambah beban subsidi serta memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dari sisi teknikal, Elandry menilai ruang penurunan IHSG dalam jangka pendek seharusnya mulai terbatas dengan area penahan di kisaran 7.200.
Namun jika sentimen global dan domestik belum stabil, pelemahan masih berpotensi berlanjut hingga menembus level psikologis 7.000. Hal ini mengingat masih terdapat gap harga pada IHSG di area 6.944 yang belum tertutup. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Emas kelolaan layanan bullion bank BSI mencapai sekitar 22,5 ton dalam satu tahun… Read More
Poin Penting Rupiah sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS, sementara IHSG turun 3,12 persen ke… Read More
Poin Penting: Lonjakan harga minyak dunia hingga 118 dolar AS per barel mendorong pemerintah mempercepat… Read More
Poin Penting Indeks Keyakinan Konsumen Februari 2026 turun menjadi 125,2 dari 127,0 pada Januari, namun… Read More
Poin Penting Pemerintah berencana menambah penempatan dana Rp100 triliun di bank-bank Himbara untuk mendorong likuiditas… Read More
Poin Penting Program Makan Bergizi Gratis Indonesia menjangkau lebih dari 61 juta penerima manfaat, termasuk… Read More