Sejumlah warga kota membentangkan poster saat aksi unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran, di New York, Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026). Ratusan warga New York berkumpul di Times Square dan berjalan di sepanjang jalan-jalan di Kota New York untuk memprotes serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada hari Sabtu. )Foto: ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Fengguo/nz)
Poin Penting
Jakarta – Phintraco Sekuritas Indonesia memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara teknikal pada pekan ini berpeluang menguji level 7.800-8.000 di tengah ketidakpastian politik yang kembali memanas.
“Dampak perang Amerika Serikat (AS)-Iran diperkirakan akan menjadi sentimen negatif akibat meningkatnya ketidakpastian global, yang dipengaruhi oleh seberapa lama dan meluasnya perang akan berlangsung,” kata Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Selain itu, dampak lain dari adanya perang AS-Iran tersebut dapat berpengaruh pada harga energi yang berpotensi naik dan investor global yang cenderung mengurangi exposure terhadap aset yang berisiko.
Baca juga: IHSG Dibuka Ambles Hampir 2 Persen ke Posisi 8.073
Namun, Manajemen Phintraco menyebut, IHSG berpeluang mengalami rebound jika sentimen global mereda dan didukung data perekonomian domestik yang solid.
Dari sentimen domestik dijadwalkan akan dirilis sejumlah data indikator ekonomi, yaitu S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, dan inflasi Februari 2026 pada Senin (2/3) dan cadangan devisa Februari Jumat (6/3).
Sementara itu penurunan tarif dalam kesepakatan dagang dengan AS dari 19 persen menjadi 15 persen berpotensi menjadi faktor positif terhadap sektor berbasis ekspor.
Adapun, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan akibat dari perang tersebut ada dua potensi tekanan, salah satunya adalah potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market.
“Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, beban biaya produksi meningkat dan margin emiten bisa tertekan,” ujar Hendra dalam kesempatan terpisah.
Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Perang Iran, Ini Wanti-Wanti Jusuf Kalla
Oleh karena itu, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300.
Hendra mengimbau, bagi investor ritel, sikap terbaik adalah disiplin dan selektif. Jika memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko ketat.
Namun bagi yang konservatif, strategi wait and see tetap relevan sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.
Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Prabowo Subianto menyebut pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang hampir 100 persen, dengan warga… Read More
Poin Penting Pelaku menggunakan perangkat ilegal untuk meniru menara BTS, sehingga bisa mengirim SMS phishing… Read More
Jakarta - Momentum Lebaran 2026 dimanfaatkan Paramount Land untuk mengakselerasi penjualan properti melalui kombinasi strategi… Read More
Poin Penting Tugu Insurance menyalurkan 1.000 paket sembako dan santunan kepada anak yatim serta keluarga… Read More
Poin Penting OJK cabut izin PT Tennet Depository Indonesia sebagai pengelola penyimpanan aset keuangan digital… Read More
Poin Penting Pemerintah menerapkan WFH sehari dalam sepekan bagi ASN dan mengimbau sektor swasta untuk… Read More