Poin Penting
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Penyaluran pembiayaan Amartha tembus Rp13,2 triliun, naik lebih dari 20 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan di tahun lalu (secara) year-on-year, double digit. Secara loan growth, kami tumbuh (lebih dari) 20 persen. Secara NPL (TWP90) kami jaga di sekitar 4 persen,” ungkap Andi Taufan Garuda Putra, CEO & Founder Amartha di Jakarta, Jumat, 23 Januari 2026.
Lebih jauh dia menjelaskan, portofolio pembiayaan Amartha mayoritas adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Secara geografi, 60 persen portofolio berasal dari wilayah luar Jawa.
Baca juga: Amartha Bantah Tuduhan Kartel Bunga Pinjaman
“Tahun 2025, Amartha mampu memberi akses pinjaman uang kepada para pelaku UMKM dari 50 ribu desa di berbagai wilayah di Indonesia,” jelasnya.
Jika dirinci, sebanyak 53 persen borrower Amartha bergerak di sektor perdagangan. Kemudian, disusul sektor pertanian (22 persen), sektor peternakan (9 persen), sektor jasa (6 persen) , industri rumah tangga dan lainnya (7 persen).
“Kalau kita breakdown lebih detail lagi, kita ngomongin pertanian di seluruh Indonesia. Di Amartha sendiri, profil-nya bisa lebih dari 50 jenis (pertanian). Perdagangan di Indonesia itu lebih dari 100 jenis yang kami dampingi,” ujarnya.
Andi menyebut, bisnis Amartha kini semakin fokus mempermudah masyarakat rural dalam mendapat akses keuangan digital. Pihaknya pun selalu berusaha memahami tantangan masyarakat dalam memperoleh pendanaan digital.
“Kalau melihat 2025 kemarin, dengan Amartha yang sudah bisa hadir di berbagai pelosok negeri berbagai daerah, kami melihat bagaimana kami bisa lebih mengenal lagi tantangan (masyarakat). Sekarang apa sih, permasalahan yang mereka hadapi, pain points mereka,” terang Andi.
Baca juga: Masih Dihantui Pinjol Ilegal dan Gagal Bayar, Begini Prospek Bisnis Pindar 2026
Ke depan, Amartha melihat peluang permintaan pembiayaan dari fintech lending masih tinggi. Utamanya, dengan masih adanya gap antara permintaan kredit di sektor UMKM antara perbankan dengan pelaku jasa keuangan lainnya.
Untuk itu, Andi menyiapkan strategi perusahaan agar mampu bersaing selama 2026. Mulai dari diversifikasi portofolio, pendalaman profil risiko dari sektor-sektor UMKM, dan eksperimen produk.
“Selain itu, bagaimana kami juga melengkapi permodalan ini dengan ekosistem, di Amartha, dengan memperkuat, platform pembayarannya. sehingga. Dengan begitu, kami bisa meng-capture, lebih banyak informasi tentang profil dan perilaku segmen kami, dengan, data-data yang lebih lebih akurat,” tukasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Irawati) Read More
Poin Penting APBN Februari 2026 defisit Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen dari PDB, dengan… Read More
Poin Penting Tugu Insurance meluncurkan asuransi mikro t mudik (konvensional dan syariah) untuk memberikan perlindungan… Read More
Poin Penting Pemerintah menggulirkan stimulus fiskal dan bansos sejak awal 2026 untuk menjaga daya beli;… Read More
Poin Penting Frekuensi transaksi Mandiri Agen naik 44 persen yoy menjadi 2,34 juta pada Januari… Read More
Jakarta – Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membidik transaksi penjualan pada program BINA (Belanja di… Read More