Poin Penting
Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) meluncurkan produk investasi terbarunya “Amartha Prosper”. Produk ini dirancang untuk memberikan imbal hasil bagi investor sekaligus mendorong keberlanjutan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi mitra pembiayaan perseroan.
Chief Funding Officer Amartha Financial, Julie Fauzie, mengatakan, penamaan “Amartha Prosper” mencerminkan semangat pertumbuhan yang saling menguntungkan antara investor dan borrower (peminjam dana).
“Kenapa namanya Amartha Prosper? (Karena) kita prosper bersama. Jadi bukan one way, tapi two ways. Benefit buat saya, benefit buat orang lain. Kita bisa prosper together. That’s the philosophy behind Amartha Prosper,” jelasnya pada Jumat, 6 Februari 2026.
Baca juga: Fundamental Kuat, Amartha Buka Peluang IPO
Menurut Julie, kehadiran Amartha Prosper sudah memberi dampak positif terhadap pelaku UMKM. Hasil investasi dari investor mampu membuka lebih dari 110 ribu lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan dari 77 persen UMKM yang didanai.
Sementara dari sisi imbal hasil, kata Julie, Amartha Prosper menawarkan imbas hasil mulai dari 6,5 hingga 14 persen per tahunnya. Investor tinggal memilih profil risiko yang mereka inginkan dan akan menerima imbal hasil sesuai dengan keperluan.
Investasi di sektor UMKM dinilai sarat dengan tantangan, seiring tingginya ketergantungan terhadap dinamika perekonomian. Menyadari hal tersebut, Amartha menegaskan komitmennya dalam memperkuat mitigasi risiko agar imbal hasil yang diterima investor tetap terjaga sesuai ekspektasi.
“Kami punya pengelolaan risiko yang memanfaatkan teknologi. Ada mitigasi risiko (bertujuan) untuk bisa tetap menjaga pengembalian return yang cukup terjaga,” ungkap Julie.
Ia menjelaskan, Amartha mengandalkan basis data UMKM yang dipetakan berdasarkan profil risiko investor. Dengan pendekatan tersebut, penyaluran pendanaan dapat disesuaikan sehingga potensi imbal hasil lebih selaras dengan preferensi masing-masing investor.
Sepanjang 2025, sebanyak 53 persen borrower Amartha berasal dari sektor perdagangan. Selanjutnya 22 persen dari sektor pertanian, 9 persen peternakan, 6 persen jasa, serta 7 persen industri rumah tangga dan sektor lainnya. Komposisi ini mencerminkan dominasi sektor riil yang menjadi tulang punggung pembiayaan.
Baca juga: Standard Chartered Beberkan Peluang Investasi pada 2026
Ke depan, Julie berharap kehadiran Amartha Prosper dapat menjadi alternatif instrumen investasi dengan potensi imbal hasil yang kompetitif sekaligus berdampak sosial.
“Basically, kami berharap, dengan Amartha Prosper, produk berhasil ini bisa memiliki alternatif investasi populasi yang lebih luas,” tegasnya.
Peluncuran produk ini juga mendapat apresiasi dari Financial Planner Melvin Mumpuni. Ia menilai, Amartha Prosper menghadirkan konsep impact investing yang masih relatif baru bagi investor ritel di Indonesia.
“Produk impact investing itu, kalau secara global itu meningkat. Banyak banget institusi besar sekarang sudah mulai mengalokasikan dana investasinya ke proyek-proyek yang impact investing,” ujar Melvin.
“Nah, kalau di Indonesia sendiri ini hal yang baru, terutama buat kita para investor retail. Makanya itu ini waktunya atau momentumnya untuk menyampaikan produk ini,” imbuhnya.
Adapun investor dapat memilih sejumlah tipe investasi sesuai profil imbal hasil yang diinginkan, yakni Balanced-Flex sebesar 6,5 persen, Balanced 8 persen, Progressive 11 persen, dan Dynamic 14 persen.
Produk Balanced-Flex memiliki tenor enam bulan, sementara tiga produk lainnya berdurasi satu tahun. Perseroan menargetkan risiko dari masing-masing produk tetap terjaga di bawah 10 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More
Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More
Poin Penting Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB… Read More
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melantik 40 pejabat eselon II di DJP dan… Read More
Poin Penting BCA Digital raih laba Rp213,4 miliar, ditopang DPK Rp14,3 triliun (+22%) dan kredit… Read More
Poin Penting Pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan 10–12 persen, lebih tinggi dari target 2025 sebesar 9–11… Read More