Keuangan

Amartha Prosper Jadi Alternatif Investasi, Tawarkan Imbal Hasil hingga 14 Persen

Poin Penting

  • Amartha Prosper resmi meluncur, tawarkan imbal hasil 6,5–14 persen per tahun dengan konsep impact investing.
  • Dampak sosial signifikan, buka 110 ribu lapangan kerja dan tingkatkan pendapatan 77 persen UMKM mitra.
  • Mitigasi risiko berbasis teknologi, profil disesuaikan dengan investor, target risiko di bawah 10 persen.

Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) meluncurkan produk investasi terbarunya “Amartha Prosper”. Produk ini dirancang untuk memberikan imbal hasil bagi investor sekaligus mendorong keberlanjutan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi mitra pembiayaan perseroan.

Chief Funding Officer Amartha Financial, Julie Fauzie, mengatakan, penamaan “Amartha Prosper” mencerminkan semangat pertumbuhan yang saling menguntungkan antara investor dan borrower (peminjam dana).

“Kenapa namanya Amartha Prosper? (Karena) kita prosper bersama. Jadi bukan one way, tapi two ways. Benefit buat saya, benefit buat orang lain. Kita bisa prosper together. That’s the philosophy behind Amartha Prosper,” jelasnya pada Jumat, 6 Februari 2026.

Baca juga: Fundamental Kuat, Amartha Buka Peluang IPO

Menurut Julie, kehadiran Amartha Prosper sudah memberi dampak positif terhadap pelaku UMKM. Hasil investasi dari investor mampu membuka lebih dari 110 ribu lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan dari 77 persen UMKM yang didanai.

Sementara dari sisi imbal hasil, kata Julie, Amartha Prosper menawarkan imbas hasil mulai dari 6,5 hingga 14 persen per tahunnya. Investor tinggal memilih profil risiko yang mereka inginkan dan akan menerima imbal hasil sesuai dengan keperluan.

Mitigasi Risiko

Investasi di sektor UMKM dinilai sarat dengan tantangan, seiring tingginya ketergantungan terhadap dinamika perekonomian. Menyadari hal tersebut, Amartha menegaskan komitmennya dalam memperkuat mitigasi risiko agar imbal hasil yang diterima investor tetap terjaga sesuai ekspektasi.

“Kami punya pengelolaan risiko yang memanfaatkan teknologi. Ada mitigasi risiko (bertujuan) untuk bisa tetap menjaga pengembalian return yang cukup terjaga,” ungkap Julie.

Ia menjelaskan, Amartha mengandalkan basis data UMKM yang dipetakan berdasarkan profil risiko investor. Dengan pendekatan tersebut, penyaluran pendanaan dapat disesuaikan sehingga potensi imbal hasil lebih selaras dengan preferensi masing-masing investor.

Sepanjang 2025, sebanyak 53 persen borrower Amartha berasal dari sektor perdagangan. Selanjutnya 22 persen dari sektor pertanian, 9 persen peternakan, 6 persen jasa, serta 7 persen industri rumah tangga dan sektor lainnya. Komposisi ini mencerminkan dominasi sektor riil yang menjadi tulang punggung pembiayaan.

Baca juga: Standard Chartered Beberkan Peluang Investasi pada 2026

Ke depan, Julie berharap kehadiran Amartha Prosper dapat menjadi alternatif instrumen investasi dengan potensi imbal hasil yang kompetitif sekaligus berdampak sosial.

“Basically, kami berharap, dengan Amartha Prosper, produk berhasil ini bisa memiliki alternatif investasi populasi yang lebih luas,” tegasnya.

Peluncuran produk ini juga mendapat apresiasi dari Financial Planner Melvin Mumpuni. Ia menilai, Amartha Prosper menghadirkan konsep impact investing yang masih relatif baru bagi investor ritel di Indonesia.

“Produk impact investing itu, kalau secara global itu meningkat. Banyak banget institusi besar sekarang sudah mulai mengalokasikan dana investasinya ke proyek-proyek yang impact investing,” ujar Melvin.

“Nah, kalau di Indonesia sendiri ini hal yang baru, terutama buat kita para investor retail. Makanya itu ini waktunya atau momentumnya untuk menyampaikan produk ini,” imbuhnya.

Adapun investor dapat memilih sejumlah tipe investasi sesuai profil imbal hasil yang diinginkan, yakni Balanced-Flex sebesar 6,5 persen, Balanced 8 persen, Progressive 11 persen, dan Dynamic 14 persen.

Produk Balanced-Flex memiliki tenor enam bulan, sementara tiga produk lainnya berdurasi satu tahun. Perseroan menargetkan risiko dari masing-masing produk tetap terjaga di bawah 10 persen. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Bank Mandiri Pastikan Livin’ Siap Temani Transaksi Nasabah Sepanjang Libur Idul Fitri

Poin Penting Bank Mandiri memastikan Livin’ by Mandiri tetap stabil dan beroperasi 24 jam untuk… Read More

2 hours ago

Sidang Isbat Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026, Ini Alasannya

Poin Penting Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Berangkatkan 10.000 Pemudik Gratis, Ini Fasilitasnya

Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More

2 hours ago

Laba Adi Sarana Armada (ASSA) Melesat 81 Persen di 2025, Bisnis Ini Paling Ngebut

Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More

5 hours ago

Pendapatan Agung Podomoro Land (APLN) Tembus Rp3,57 Triliun, Ini Penyumbang Terbesarnya

Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More

6 hours ago

Arus Mudik Mulai Naik, Jasa Marga Imbau Pengguna Tol Pakai 1 Kartu e-Toll

Poin Penting Jasa Marga mengimbau pengguna jalan tol menggunakan satu kartu e-Toll yang sama saat… Read More

8 hours ago