Poin Penting
Jakarta – Allianz Global Investors (AllianzGI) memproyeksi perekonomian global masih dalam kondisi tertekan pada 2026. Tapi, daya tahan ekonomi dunia masih tetap solid. Ekonomi global akan tetap tumbuh, ditopang sejumlah faktor.
Dalam Laporan House View Q1 2026, AllianzGI menyebut, perekonomian global tetap on track, didukung kebijakan pemerintah yang kondisif, keuangan korporasi yang solid, dan perkembangan berkelanjutan kecerdasan buatan (AI).
“Latar belakang ini relatif kondusif bagi aset berisiko. Meski ketidakpastian fundamental dan politik tetap tinggi, kami yakin puncaknya telah terlewati. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas pasar, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS maupun transisi Ketua The Fed,” papar Tim CIO AllianzGI, dalam Laporan House View Q1 2026 dikutip Kamis, 29 Januari 2026.
Baca juga: Allianz Indonesia Gandeng AllianzGI Indonesia Kelola Portofolio Investasi
AI disebut akan tetap menjadi tema invetasi utama, tapi memerlukan pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi. Menurut AllianzGI, sektor ini belum berada dalam fase gelembung (bubble). Investor bisa rugi jika kehilangan peluang kenaikan lanjutan dari sektor ini. Peluang mulai bermunculan di ekosistem AI yang lebih luas, termasuk sektor energi dan infrastruktur.
“Di tengah meluasnya peluang AI, investor tetap perlu mencermati risiko konsentrasi serta memantau pergerakan credit default swap (CDS) pada perusahaan-perusahaan AI besar, karena indikator tersebut dapat menjadi sinyal awal munculnya risiko kredit,” lanjut laporan AllianzGI.
Selanjutnya, dari sisi kelas aset ekuitas, AllianzGI menilai peluang masih terbuka di berbagai pasar global. Di Amerika Serikat (AS), meskipun valuasi saham berkapitalisasi besar masih relatif tinggi, prospek tetap didukung oleh kembalinya belanja modal di sektor manufaktur.
Sementara di Eropa, sektor-sektor strategis yang diuntungkan oleh dorongan menuju kemandirian regional memberikan stimulus yang signifikan. Adapun Tiongkok dinilai berpotensi menjadi lahan investasi yang subur pada 2026 seiring gelombang penyebaran AI.
Untuk pasar pendapatan tetap, AllianzGI melihat peluang pada obligasi pemerintah AS berdurasi pendek. Ini sejalan dengan ekspektasi kurva imbal hasil yang menanjak. Sementara di pasar yang mendekati akhir siklus pelonggaran moneter, seperti Kanada, strategi yield curve flattener menjadi lebih menarik.
“Untuk eksposur jangka panjang, obligasi pemerintah negara berkembang, khususnya dari Brasil, Peru, dan Afrika Selatan menawarkan tingkat suku bunga riil yang menarik, dengan bank sentral yang masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga,” imbuh Tim CIO AllianzGI.
Baca juga: BEI Kembali Aktifkan Trading Halt usai IHSG Turun 8 Persen ke Level 7.654
Lalu, dari sisi multi aset, AllianzGI optimistis terhadap aset berisiko meskipun volatilitas pasar dan ketidakpastian terkait data ekonomi Amerika Serikat serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih berlanjut. Ekuitas tetap menjadi kelas aset utama, dengan penyesuaian eksposur dari AS ke Asia.
“Kami mempertahankan keyakinan jangka panjang terhadap emas, yang ditopang oleh permintaan bank sentral dan arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF). Kami juga meningkatkan pandangan terhadap tembaga, seiring pasokan yang stagnan dan meningkatnya permintaan untuk mendukung infrastruktur transisi hijau serta ekspansi AI,” lanjut laporan tersebut.
Secara umum, AllianzGI bersikap relatif lebih pro-risiko, dengan penekanan kuat pada diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah. Mengombinasikan eksposur pada pendorong pertumbuhan struktural seperti AI dengan alokasi di pasar negara berkembang, logam mulia, serta mata uang yang masih undervalued dapat membantu menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.
“Dalam tahun yang kami perkirakan tetap tangguh namun kompleks, manajemen aktif akan menjadi faktor penentu keberhasilan investasi,” pungkas Tim CIO AllianzGI. (*) Ari Astriawan
Poin Penting Airlangga menilai trading halt BEI sebagai momentum reformasi regulasi pasar modal. Pembahasan reformasi… Read More
Poin Penting OJK bersama SRO terus mengkaji kesesuaian proposal pasar saham domestik dengan ketentuan MSCI… Read More
Poin Penting DPK perbankan tumbuh 10,4 persen menjadi Rp9.467,6 triliun per Desember 2025, didorong giro… Read More
Poin Penting Risiko kerugian bencana alam di Indonesia mencapai Rp20 triliun-Rp50 triliun per tahun, dengan… Read More
Poin Penting Trading halt akibat kepanikan pasar bersifat sementara, dipicu isu potensi penurunan status Indonesia… Read More
Poin Penting KUPASI mendorong inisiasi asuransi wajib bencana sebagai solusi memperkuat ketahanan nasional di tengah… Read More