Poin Penting
Jakarta – Di tengah laju digitalisasi perbankan yang kian masif, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru tetap konsisten memperluas jaringan kantor cabang.
Langkah tersebut menjadi penegasan bahwa transformasi digital tidak serta-merta menghilangkan peran kehadiran fisik bank di tengah masyarakat.
BCA mencatat jumlah transaksi di kantor cabang memang terus menurun sejalan dengan perkembangan digitalisasi. Persentasenya di bawah 1 persen, hanya saja nilai transaksi di kantor cabang mencapai lebih dari 30 persen dari total transaksi BCA.
Senior Vice President Operation Strategy & Development BCA, Setiady, mengungkapkan bahwa jumlah kantor cabang BCA terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau kita lihat tiap tahun itu ada mengalami kenaikan ya. Dari 2021 itu 1.242. Sekarang (Desember 2025) ada 1.270 unit. Jadi ada pertambahan gitu,” ujar Setiady pada rangkaian BCA Expoversary 2026 di ICE BSD, Tangerang, 6 Februari 2026.
Menurutnya, pembukaan cabang baru saat ini lebih difokuskan ke wilayah Indonesia Timur serta daerah-daerah yang sebelumnya belum terjangkau jaringan BCA. Masih terdapat sejumlah kota yang belum memiliki kantor cabang BCA, sehingga perseroan melihat adanya kebutuhan layanan yang harus dipenuhi.
“Cukup banyak kota yang kantor cabang BCA itu belum tersedia. Sehingga kita merasa memang perlu menyediakan layanan buat nasabah-nasabah di daerah-daerah tersebut,” tambahnya.
Baca juga: Laba BCA Digital Melonjak 98 Persen Jadi Rp213,4 Miliar di 2025
Ia menegaskan, perbankan merupakan bisnis berbasis kepercayaan. Kehadiran fisik kantor cabang dinilai masih menjadi faktor penting dalam membangun trust, terutama bagi nasabah dengan dana besar atau kebutuhan transaksi yang kompleks.
“Begitu nasabah mungkin merasa ada problem dengan transaksinya, dia akan mudah ya dibantu terutama jika dia melihat ada kantor cabang BCA,” jelasnya.
Dia merinci, nasabah yang datang bertransaksi ke kantor cabang BCA didominasi transaksi tunai, kebutuhan warkat, hingga pengajuan fasilitas modal kerja. Transaksi ini dinilai tetap membutuhkan interaksi fisik.
“Transaksi yang lebih kompleks sifatnya, misalnya kebutuhan untuk melakukan investasi terutama dalam jumlah besar, itu perlu pertemuan dengan frontliner kita supaya nasabah benar-benar paham,” tambahnya.
Ketika ditanya target pembukaan cabang, Setiady belum membeberkan secara detail jumlah kantor cabang baru yang siap beroperasional tahun ini. Dia memastikan, tahun ini akan melakukan ekspansi kantor cabang, terutama di wilayah Indonesia Timur.
“Contohnya itu tahun lalu itu kita buka 20 kantor cabang baru,” jelasnya.
Baca juga: BCA Syariah Permudah Akses Pembiayaan Rumah, Kendaraan dan Emas di BCA Expoversary 2026
Meski demikian, BCA tetap melakukan optimalisasi jaringan dengan menutup cabang yang lokasinya terlalu berdekatan dan mengalihkan fokus ke wilayah baru. Strategi ini ditempuh agar ekspansi lebih efektif dan menjangkau pasar yang belum tergarap.
Tak hanya kantor cabang, lanjut Setiady, BCA juga konsisten dalam meningkatkan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) setiap tahunnya.
“Dari 18.000 ATM di 2021, nah sekarang kita itu (ATM) sudah mencapai lebih dari 20.000 ATM pada 2025,” tambahnya.
Di sisi lain, digitalisasi tetap menjadi pilar penting dalam strategi operasional BCA. Setiady mengakui, efisiensi dari digitalisasi sangat signifikan pengaruhnya terhadap operasional perseroan.
“Kalau kita bicara digitalisasi itu tingkat efisiensinya sangat besar ya. Jadi beberapa transaksi itu yang di atas 50 persen efisiensinya. Ada beberapa transaksi yang sampai 70 persen juga, ada yang mungkin 30 persen tergantung kompleksitas transaksi,” paparnya.
Sebagai informasi tambahan, jumlah kantor cabang perbankan di Tanah Air terus menyusut. Berdasarkan data dalam Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat tren pengurangan jumlah kantor cabang bank.
Pada Maret 2025, jumlah kantor cabang bank tercatat 23.734 unit. Jumlah tersebut berkurang 98 unit, dibanding Februari 2025 yang tercatat sebanyak 23.832 unit.
Sementara jika dilihat secara tahunan, pada Maret 2024, total kantor cabang bank berjumlah 24.243 unit. Jumlah ini juga menyusut 509 unit dibanding jumlah kantor cabang bank yang tercatat pada Maret 2025.
Pun demikian dengan mesin ATM. OJK mencatat berdasarkan data Surveillance Perbankan Indonesia terdapat 1.399 unit ATM yang tutup.
Hingga kuartal III 2025, jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia sebanyak 89.774. Angka itu menurun 1.399 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173. (*)
Poin Penting BI mencatat pangsa kredit UMKM terhadap total kredit perbankan turun menjadi 17,49% pada… Read More
Oleh Krisna Wijaya, Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (LPPI) KEHADIRAN artificial intelligence (AI) sudah… Read More
Poin Penting Sepanjang 2025, ACA membukukan premi sekitar Rp6 triliun, melonjak tajam dibandingkan lima-enam tahun… Read More
Poin Penting BI menilai penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan ekonomi domestik. Stabilitas sistem keuangan… Read More
Poin Penting PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menegaskan tidak memiliki keterlibatan, baik langsung maupun… Read More
Poin Penting Celios pertanyakan pertumbuhan PDB 5,11 persen dipertanyakan, pasalnya konsumsi rumah tangga & PMTB… Read More