Categories: Analisis

Alasan Adira Finance Tetap Merger di Tengah Ekonomi Lesu

Poin Penting

  • Adira Finance menyelesaikan merger dengan Mandala Finance sebagai strategi jangka panjang di tengah kondisi ekonomi yang lesu.
  • Setelah integrasi, sekitar 50 persen outlet merupakan jaringan baru, dengan fokus memperluas basis konsumen terutama di wilayah Indonesia Timur.
  • Hingga Agustus 2025, Adira mencatat pembiayaan baru Rp23 triliun, dengan pertumbuhan signifikan di segmen motor, mobil, dan multi purpose loan (MPL).

Bekasi – Saat banyak perusahaan pembiayaan menahan ekspansi akibat lemahnya daya beli masyarakat, Adira Finance justru melangkah berani dengan merampungkan proses merger dengan Mandala Finance. Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka panjang yang lebih efektif dijalankan di tengah kondisi pasar yang sedang lesu.

Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila mengatakan, situasi pasar yang tidak terlalu sibuk memberikan ruang bagi perusahaan untuk fokus pada proses integrasi.

“Itu masuk akal. Kalau zaman sibuk, masa sempat ngurusin ini? Kita pasti ke bisnis. Justru dengan kondisi market yang slow, kami punya waktu buat melakukan yang tidak bisa kita lakukan,” ujar Made saat ditemui usai acara Seremoni Efektif Penggabungan Adira dan Mandala di Bekasi, Rabu, 1 Oktober 2025.

Baca juga: Pasca Merger, Adira Finance Tancap Gas Perluas Jangkauan Pasar

Menurut Made, merger ini merupakan momen untuk membangun fondasi baru, termasuk ekspansi jaringan. Usai penggabungan, sekitar 50 persen outlet merupakan jaringan baru hasil sinergi dengan Mandala Finance.

Meski begitu, Made tidak menampik bahwa integrasi ini bukan tanpa tantangan. Ia mengungkapkan masih ada banyak pekerjaan rumah, mulai dari penyatuan jaringan, sumber daya manusia, hingga bauran produk.

“Ekspansi ini penting untuk memperbesar basis konsumen, terutama di wilayah-wilayah yang sebelumnya kuat dikuasai Mandala seperti Indonesia Timur,” tambahnya.

Baca juga: Nasib Karyawan Mandala usai Merger dengan Adira

Dari sisi bisnis, Adira Finance tetap menunjukkan kinerja solid.

Hingga Agustus 2025, perusahaan telah menyalurkan pembiayaan baru Rp23 triliun, dengan kontribusi motor 40 persen atau sebesar Rp9,4 triliun, mobil 32 persen sebesar Rp7,2 triliun, dan non-otomotif 28 persen dengan jumlah Rp6,3 triliun. Segmen non-otomotif, terutama multi purpose loan (MPL), menjadi salah satu motor pertumbuhan.

“MPL kita tumbuh, non-oto kita tumbuh. Dari Rp5,7 triliun tahun lalu jadi Rp6,3 triliun per Agustus tahun ini,” jelas Made. (*) Alfi Salima Puteri

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

OJK Dukung Rencana Purbaya Ubah PNM jadi Bank UMKM

Poin Penting OJK menyatakan akan mengikuti dan mendukung keputusan akhir Kementerian Keuangan terkait rencana pengambilalihan… Read More

12 mins ago

Asing Net Sell Rp1,77 Triliun, Saham BMRI, BBRI, dan ANTM Paling Banyak Dilego

Poin Penting Net foreign sell tembus Rp1,77 triliun, didominasi sektor keuangan (perbankan besar) dan energi,… Read More

36 mins ago

Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Pekan dengan Iran, Ini Syaratnya

Poin Penting: Presiden AS Donald Trump menetapkan gencatan senjata dua pekan sebagai hasil komunikasi dengan… Read More

42 mins ago

Mirae Asset Sebut Tekanan Eksternal Masih Bayangi IHSG dan Rupiah

Poin Penting Sentimen risk-off masih dominan, terlihat dari IHSG yang sempat turun di bawah 7.000… Read More

55 mins ago

Cadangan Devisa Indonesia Menyusut jadi USD148,2 Miliar, Ini Penjelasan BI

Poin Penting Cadangan devisa RI turun menjadi USD148,2 miliar per Maret 2026 dari USD151,9 miliar… Read More

1 hour ago

Nasib Gaji ke-13 ASN 2026 Belum Pasti, Menkeu Purbaya: Masih Dipelajari

Poin Penting: Pemerintah masih mengkaji apakah gaji ke-13 ASN akan terkena efisiensi anggaran. Keputusan final… Read More

1 hour ago