AJB Bumiputera, Jiwasraya dan Muamalat Jadi Preseden Buruk Pengawasan OJK

Jakarta – Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diminta bertanggung jawaban oleh anggota Komisi XI DPR RI terkait lemahnya pengawasan di sektor jasa keuangan yang dianggap banyak bermasalah.

Anggota DPR Komisi XI Fraksi Demokrat Vera Febyanthy mengatakan, beberapa masalah yang besar saat ini seharusnya bisa diantisipasi sebelumnya lantaran operasional perusahaan jasa keuangan di Indonesia tidak akan berjalan tanpa adanya persetujuan OJK. Menurutnya, OJK harus ikut bertanggung jawab karena lalai dalam menjaga bisnis-bisnis di industri keuangan tetap berjalan dengan sehat.

“Harusnya sudah tahu ini sistem. Ada seharusnya ada mitigasi siapa yang bertanggung jawab atas hal ini. Meskipun kita tahu kalau sekarang kasus ini sudah diserahkan ke kejaksaan tapi OJK harus dilibatkan. Siapa yang bertanggung jawab atas rencana bisnis bank,” jelas Vera menyoal kinerja PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat).

Seperti diketahui, belakangan santer masalah terkait likuiditas dan potensi gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kondisi keuangan Jiwasraya yang mengalami kerugian Rp13,74 triliun. Sementara di industri yang sama PT AJB Bumiputera juga masih belum menemukan titik terang. Lalu di industri perbankan ada persoalan kinerja Bank Muamalat yang memburuk sehingga kesukitan mendapatkan investor untuk bangkit kembali.

Setali tiga uang, Anggota Komisi XI DPR Supratikno juga mengkritisi sikap OJK yang dianggap kurang tegas. Padahal OJK dinilainya mempunyi kewenangan yang sangat besar namun tidak dimanfaatkan secara optimal.

“Kalau dari kacamata DPR, OJK ini tidak tegas, sangat tidak tegas. OJK punya kewenangan besar tapi kewenangan besar tidak dijalankan,” keluhnya.

Memurutnya, kasus Jiwasraya hingga Muamalat, menjadi contoh buruk pengawasan yang dilakukan OJK. Padahal, masalah utang hingga likuiditas perusahaan-perusahaan tersebut tak akan separah saat ini jika OJK bisa lebih jeli dan terbuka terhadap permasalahan tersebut. (*) Dicky

Paulus Yoga

Recent Posts

Kondisi Menantang, Begini Stategi Bisnis Bank Mandiri pada 2026

Poin Penting Bank Mandiri mencermati risiko global (geopolitik, kebijakan perdagangan, volatilitas komoditas) serta dampak penurunan… Read More

8 mins ago

IHSG Ditutup Melemah 0,53 Persen ke Posisi 8.103

Poin Penting IHSG ditutup turun 0,53 persen ke level 8.103,87, dengan mayoritas saham terkoreksi (349… Read More

26 mins ago

Tragedi Siswa SD di NTT: Potret Gelap Masalah Keuangan Keluarga

Poin Penting Seorang siswa SD di NTT bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli… Read More

36 mins ago

Bank Mandiri Bukukan Laba Rp56,3 Triliun pada 2025

Poin Penting Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp56,3 triliun pada 2025, ditopang pertumbuhan kredit 13,4… Read More

1 hour ago

Debt Collector Punya Peran Krusial Jaga Stabilitas Industri Keuangan

Poin Penting Keberadaan debt collector berperan sebagai credit collection support yang menjaga likuiditas, menekan risiko… Read More

1 hour ago

DPLK Avrist Catat Aset Kelolaan Rp1,32 Triliun hingga Desember 2025

Poin Penting Aset kelolaan DPLK Avrist tumbuh 9,24% menjadi Rp1,32 triliun hingga Desember 2025, dengan… Read More

2 hours ago