Poin Penting
- OJK menggandeng PKK untuk memperluas literasi keuangan melalui sekitar 6 juta kader hingga tingkat keluarga.
- PKK mendorong penandatanganan MoU agar edukasi keuangan berjalan lebih terstruktur dan berkelanjutan.
- OJK telah menggelar hampir 37.000 kegiatan edukasi yang menjangkau sekitar 4,5 juta peserta sepanjang 2025.
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan merupakan langkah strategis untuk memberikan sinyal kuat kepada pasar di tengah meningkatnya gejolak ekonomi global.
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut menunjukkan respons cepat Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pelaku pasar.
“Tidak terburu-buru, minggu lalu kan naik (BI Rate). Karena ini memang membutuhkan, market membutuhkan sinyal yang kuat. Dan dengan kenaikan BI rate 25 basis poin itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Selasa, 9 Juni 2026.
Baca juga: BI Mendadak Kerek Suku Bunga Acuan jadi 5,50 Persen, Ini Analisis Syailendra
Airlangga menjelaskan, keputusan menaikkan suku bunga acuan diambil karena BI mengutamakan stabilitas perekonomian domestik.
Ia menilai respons pasar terhadap kebijakan tersebut cukup positif. Hal itu tecermin dari penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“BI rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Jadi dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik. Masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua, rupiah juga sedikit menguat. Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI Rate ini cukup baik,” ungkapnya.
Baca juga: IHSG Terbang 7,57 Persen, Kapitalisasi Pasar Kembali Bergairah di Tengah Reli Saham
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga, baik dari sisi ekspor maupun indikator makroekonomi. Karena itu, pemerintah tetap memprioritaskan upaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
“Oleh karena itu, tentu kita terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi. Karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya. Baik dari segi ekspor, dari segi makro,” tambahnya.
Baca juga: BI Tiba-Tiba Kerek Suku Bunga jadi 5,50 Persen, Ini Alasannya!
Pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026), nilai tukar rupiah berada di level Rp18.058 per dolar AS atau menguat 0,71 persen.
Sementara itu, IHSG ditutup melonjak 7,57 persen atau naik 404,51 poin ke level 5.746,64 dari posisi sebelumnya 5.342,13. (*)
Editor: Yulian Saputra


