Moneter dan Fiskal

Airlangga Targetkan Ekspor Tekstil Melonjak 10 Kali Lipat dalam 10 Tahun

Poin Penting

  • Target ekspor tekstil naik 10 kali lipat dalam 10 tahun, didorong oleh perluasan akses pasar global melalui berbagai perjanjian dagang.
  • Akses pasar diperluas lewat IEU-CEPA (tarif 0 persen pada 2027), ICA-CEPA, I-EAEU FTA, kerja sama Indonesia–UK, serta rencana penandatanganan dengan AS.
  • Target ini bagian dari dorongan pertumbuhan ekonomi 8 persen, dengan reformasi struktural, penguatan investasi, belanja pemerintah, peran Danantara, serta dukungan sistem keuangan

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan kinerja ekspor, khususnya sektor tekstil mampu melonjak 10 kali lipat dalam satu dekade ke depan.

Airlangga menyebutkan optimisme tersebut bisa terwujud dengan terbukanya akses pasar Indonesia ke banyak negara.

“Dengan terbukanya akses pasar ke banyak negara untuk sektor tekstil, dalam 10 tahun ke depan ekspor diperkirakan bisa meningkat 10 kali lipat,” ujar Airlangga dalam Indonesia Economic Oulook 2026, Jumat, 13 Februari 2026.

Baca juga: BPS: Ekspor Indonesia Naik 6,15 Persen Sepanjang 2025

Dia menjelaskan, Indonesia secara geopolitik membuka akses ke hampir seluruh pasar di dunia. Mulai dari Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang akan membuat barang Indonesia 0 persen pada 2027. Hal ini akan membuat akses pasar terhadap 14,7 persen dari PDB global.

Kemudian, ICA–CEPA, Indonesia-Eurasia Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), serta kerja sama ekonomi strategis Indonesia-UK.

Dan InsyaAllah dengan Amerika akan segera ditandatangani dalam waktu dekat,” tambah Airlangga.

Lebih lanjut, kata Airlangga, target tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menilai reformasi struktural harus terus dipercepat, mulai dari perbaikan iklim investasi, penyederhanaan birokrasi, hingga penguatan kepastian hukum.

Dari sisi penawaran, mesin pertumbuhan akan ditopang oleh belanja pemerintah dan investasi swasta.

“Mesin pertumbuhan, baik belanja pemerintah, investasi pelaku usaha, maupun peran Danantara (Daya Anagata Nusantara), harus bergerak secara harmonis,” imbuhnya.

Baca juga: Madu dan Racun Sentralisasi Devisa Hasil Ekspor

Tak hanya itu, Airlangga melanjutkan, kebijakan pemerintah juga diarahkan selaras dengan penguatan sistem keuangan, baik perbankan maupun pasar keuangan yang lebih dalam. Sementara dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga dan ekspor tetap menjadi motor utama.

“Pembukaan pasar baru dinilai krusial untuk memperluas serapan produk domestik di pasar global,” tutup Airlangga. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

UUS OCBC NISP Buka Peluang Spin-Off Lebih Cepat, Ini Syaratnya

Poin Penting OCBC Syariah ingin memastikan customer base benar-benar syariah agar tetap loyal saat pemisahan… Read More

27 mins ago

Genjot Ekonomi Pesisir, Prabowo Targetkan 1.000 Desa Nelayan Rampung Dibangun Tahun Ini

Poin Penting Pemerintah mulai membangun desa nelayan dengan target 1.000 desa tahun ini dan 5.000… Read More

43 mins ago

Produk Tabungan Emas Moncer, UUS OCBC Lirik Status Bullion Bank

Poin Penting Tabungan emas milik UUS OCBC NISP melonjak tajam, nasabah naik 223% dan gramasi… Read More

48 mins ago

Gandeng Kejati, Bank BPD Bali Perkuat Mitigasi Risiko Hukum Perbankan

Poin Penting Bank BPD Bali gandeng Kejaksaan Tinggi Bali lewat FGD untuk memperkuat tata kelola… Read More

58 mins ago

Prabowo Klaim Jumlah Penerima MBG Setara dengan Penduduk Afrika Selatan

Poin Penting Program MBG telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat dan mendistribusikan sekitar… Read More

1 hour ago

DPK dan Aset OCBC Syariah Naik Tajam pada 2025, Ini Rinciannya

Poin Penting DPK OCBC Syariah naik 27% menjadi Rp10,9 triliun, sementara aset meningkat 20% menjadi… Read More

1 hour ago